Budayawan dan Tokoh Adat Minta Rumah Dinas Bupati Digusur
By redaksi at 23 December, 2009, 4:32 am
Sumbawa Besar, Gaung NTB
Budayawan dan tokoh adat Samawa meminta Istana Sultan Kaharuddin III (kini Wisma Daerah) dikembalikan ke bentuk aslinya, dan menjaga kemurniannya dengan menggusur bangunan non cagar budaya di kompleks istana itu termasuk rumah dinas Bupati Sumbawa. “Tanah di Sumbawa ini masih luas. Masih cukup untuk membangun rumah dinas bupati,” papar Drs H Gani Slim pada musyakara Lembaga Adat Tana Samawa, kemarin.
Hal yang sama sambung Gani Slim pada Istana Tua Dalam Loka yang kini kondisinya sudah terkontaminasi oleh bangunan non cagar budaya. “Istana Dalam Loka dan Istana Sultan Kaharuddin III merupakan istana yang dapat dijadikan sumber belajar generasi penerus selain menjadi obyek wisata dan budaya,” kata Gani Slim.
Karenanya untuk mensterilkan istana Dalam Loka tersebut, Gani menyarankan agar bangunan non cagar budaya di kompleks istana tersebut dibebaskan dengan melakukan pendekatan kepada pemiliknya melalui pemberian kompesasi yang disepakati kedua pihak.
Lembaga Adat kata Gani Slim dapat menjadi mediator pembebasan bangunan tersebut.
sementara itu, putri kesultanan Sumbawa, Hj Daeng Indo Rahayu mengatakan, Istana Tua dan Istana Sultan Kaharuddin III sudah banyak mengalami perubahan. Ini terjadi katanya, karena pemugaran maupun renovasinya tanpa mengikutsertakan atau paling tidak berkoordinasi dengan pewaris istana. “Terus terang, kami tidak pernah ikutsertakan dalam renovasi Istana Tua. Begitu juga dengan Wisma Daerah (Istana Sultan Kaharuddin III),” ungkap Daeng Indo.
Comments
Sorry, the comment form is closed at this time.








setuju sekali. jaga cagar budaya, jangan sampai rusak
Setuju 1000%. Lestarikan budaya kita. Peradaban kita akan hancur manakala generasi kita lupa dan tidak mengetahui sejarahnya. Lucu ya, kok bisa sih, keluarga istana tidak diikutkan? Ada apa dengan pembangunan Sumbawa???
Pemda, plis dong ah, jangan kalah dengan daerah lain dong. Malu2 in aja ente
jika pemerintah sumbawa hanya menganggap semua peninggalan cagar budaya sumbawa sebagai suatu yang hanya berbentuk fisik, maka sama artinya pemerintah yang saat ini belum sepenuhnya orang samawa karena bagaimanapun dalam bentuk material dari suatu bangunan pada dasarnya tersimpan filosofis historis yang mengandung nilai-nilai spritualitas, sosial, ekonomi dan politik yang terukir di setiap helai ukiran bangunan itu sendiri.
Mana berita Lomboknya? masak berita sumbawa terus…..
Nya rampis ku totang nan….
Aslkm…Bupati Sumbawa dan semua masyrakat Sumbawa…tidak memihak kepada kepentingan siapapun terkait isu diatas,rumah dinas bupati yang bertempat di pendopo sekarang sebaiknya dipindahkan dan tempat tersebut dijadikan “museum samawa”. Museum sumbawa didesain semenarik mungkin dengan arsitek yang modern sebagai tempat inventarisasi semua sejarah sumbawa (raja-raja sumbawa, sejarah masuknya Islam di Sumbawa, asal asli penduduk sumbawa,dsb) dan inventarisasi budaya sumbawa (tari,sakecong,dsb). Museum tersebut bisa diakses oleh seluruh orang didunia ini sebagai ciri khas sumbawa dan anak cucu kita mengetahui tana samawa secara keseluruhan karena saat ini masysrakat sumbawa sedang krisis kepribadian karena dengan museum tersebut adanya ciri khas “samawa satu” ..tolong ditanggapi dengan serius…terima kasih
sebuah usulan yang bagus.. kita perlu dasar identitas yang jelas. tapi bukan berarti membangkitkan feodalisme. komunitas sumbawa sekarang gamang menghadapi dunia modern yang membawa nilai-nilai sekuler dan paham relatifisme. akar budaya kita memang rapuh, perlu penguatan identitas. sejarah dan budaya tana samawa dalam bentuknya yang paling dasar harus menjadi pijakan. kita ingin ada kebijakan yang riil kearah itu.
tanpa menghilangkan rasa hormat saya kepada Lalu Manca (tentang sejarah sumbawa), saya melihat “nopoka tu kenang metodologi penelitian de benar ” untuk penelitian sejarah sumbawa. padahal berbicara tentang sejarah berarti berbicara tentang historiografi. kita butuh sejarah yang berbicara bukan hanya dalam tataran politik-kerajaan. sejarah adalah luas. saya sendiri memerlukan dungukan semua pihak untuk penelitian sejarah samawa. masa depan bisa kita rencanakan berdasarkan kondisi masa kini dan pelajaran dari masa lampau. ada kontiunitas historis dalam setiap pertistiwa sejarah. salam hormat.