Puso Meluas, Ribuan Hektar Tanaman Jagung Mati

By at 10 March, 2010, 1:16 pm

Poto Tano, Gaung NTB
Ancaman puso dan gagal panen tanaman jagung di kecamatan Poto Tano semakin meluas. Kondisi hujan yang tidak menentu menjadi penyebab ribuan hektar tanaman jagung di wilayah paling barat KSB itu terancam mati karena tidak ada air.
Data terakhir pada Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian (Dishutbuntan) menunjukkan saat ini tanaman jagung yang sudah pasti mengalami kekeringan (mati) mencapai 1.116 hektar. Ini membuktikan bahwa kekeringan dengan cepat meluas, mengingat pada dua pekan lalu luas lahan tanaman jagung yang mati baru mencapai puluhan hektar.
Anggota DPRD KSB dari wilayah Poto Tano, M Saleh S (Saleh Mantar) kepada Gaung NTB kemarin menyatakan, luas tanaman yang sudah mengalami kekeringan mencapai 1.500 hektar. Kekeringan itu terjadi mulai dari sekitar wilayah Poto Tano, Kuang Buser, Tua Nanga sampai Tanjung Belusing (perbatasan antara Kecamatan Poto Tano dengan labuhan Kerta Sari).
“Dalam waktu beberapa hari kedepan jika tidak ada hujan luas lahan yang mengalami puso pasti akan bertambah. Kami memperkirakan akan mencapai 2.500 hingga 3000 hektar,” ujarnya.
Politisi dari Partai Patriot itu mendesak pemda untuk segera mengambil langkah kongkrit, karena ribuan KK di Poto Tano dan wilayah sekitarnya terancam akan mengalami kerugian besar.
“Lahan disana tadah hujan yang hanya bisa ditanami sekali setahun. Jadi kalau ini gagal maka ada ribuan KK petani yang akan mengalami kesulitan hidup. Kami berharap ada program khusus yang dilaksanakan pemerintah untuk menanggulangi kesulitan petani,” desak Saleh.
Hal senada dikatakan Saefullah SPt, Anggota Komisi II yang pekan lalu turun langsung ke Poto Tano meninjau tanaman jagung yang mengalami puso tersebut. Ia menyatakan jika panen gagal, setiap petani akan mengalami kerugian sekitar Rp 6 sampai Rp 7 juta per hektar. Padahal tanaman jagung merupakan satu-satunya harapan bagi para petani disana. “Karena itu kami berharap Pemda segera memberikan bantuan, tidak sekedar bantuan untuk menanggulangi bibit pada musim tanam berikutnya, tetapi juga bantuan untuk mengurangi beban kehidupan sehari-hari petani,” ujar Syaefullah.
Komisi II sendiri saat turun meninjau lokasi bersama Dinas Pertanian pekan lalu, juga sempat meminta dinas terkait untuk menanggulangi kekeringan itu dengan memberi bantuan mesin penyedot air. Namun Syaefullah mengakui keberadaan mesin penyedot air tidak akan memberi dampak signifikan karena minimnya sumber air diwilayah tersebut.
Sementara itu, Kabid Pertanian Dishutbuntan, Fatmawati SP, mengaku pihaknya tidak bisa berbuat banyak mengurangi dampak kekeringan yang sedang terjadi.
“Ini musibah yang disebabkan fenomena alam, jadi kita tidak bisa berbuat banyak. Meski kita telah mendrop mesin penyedot air kesana, tapi tetap tidak membantu karena tidak ada sumber mata air yang besar,” jelasnya.
Dinas Pertanian sendiri telah mengalokasikan anggaran yang bersumber dari APBN untuk program bantuan bibit bagi lahan seluas 1.150 hektar. Bantuan bibit itu rencananya akan digulirkan pada musim hujan pertama sekitar bulan September depan.
“Kita juga sudah merencanakan bantuan melalui program Cadangan Bibit Nasional (CBN) tetapi kita belum mendapat kepastian tentang berapa hektar kuota bantuan yang akan kita terima,” timpal Fatmawati.

berita lain

  • No Related Post

berita lain:

  1. Puso Tanaman Padi Terus Meluas Taliwang, Gaung NTB Lahan tanaman padi yang mengalami puso akibat...
  2. Ratusan Hektar Padi di KSB Terancam Puso Taliwang, Brang Ene Musim kemarau panjang yang terjadi saat ini,...
  3. Petani Poto Tano Desak Pemda Upayakan Sumber Air Poto Tano, Gaung NTB Para petani di kecamatan Poto Tano...
  4. Kekeringan Tidak Pengaruhi Produksi Padi KSB Taliwang, Gaung NTB Kekeringan yang menyebabkan puluhan hektar tanaman padi...
  5. Ratusan Hektar Padi di Seteluk Terserang Penyakit Taliwang, Gaung NTB Petani di Kecamatan Seteluk KSB terancam gagal...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Categories : SUMBAWA BARAT


No comments yet.

Sorry, the comment form is closed at this time.