15-8, Skor Terakhir Markis Kido di Lapangan Bulu Tangkis

Kehidupan dan kematian Markis Kido seolah berada di lapangan bulu tangkis.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Tes Sukma Medianti, Fitriyanto, Antara

Pemain bulu tangkis Markis Kido meninggal dunia pada usia 36 tahun. Ia meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Kido meninggal sebagai legenda bulu tangkis.

Saat detik-detik kematian menjemputnya, Kido sedang bermain bulu tangkis di GOR Petrolin, Alam Sutera, Tangerang. Saat itu, Kido baru memainkan separuh permainan.

Skor menjadi 15-8 saat Kido hendak mengubah lapangan. Lalu tiba-tiba dia ambruk ke depan. Rekannya, Chandra Wijaya yang berada di dekat lapangan, langsung membantu.

“Di game kedua, ganti pemain, dia terjatuh dan kemudian ditolong rekan-rekannya. Salah satunya Chandra Wijaya yang juga mantan pemain,” kata Kabag Humas PBSI, Broto Happy, kepada wartawan, Selasa ( 15/6).

Saat itu, kata Broto, posisi Kido sudah tidak sadarkan diri, tidak sadarkan diri dan mendengkur (snoring). “Cepat, rekan-rekannya datang membantunya,” tambahnya.

Chandra Wijaya, lanjut Broto, mungkin juga sangat panik. Dia duduk dan teman-teman lain membantu. Kemudian pompa jantungnya dan beri air.

Dalam hitungan menit, Kido dilarikan ke RS Omni, Alam Sutera. Namun, Tuhan berkehendak lain. Kido dinyatakan meninggal pada Senin, 14 Juni 2021, sekitar pukul 18.30 WIB.

“Tentu meninggalnya Kido membuat seluruh insan bulu tangkis di Indonesia, dan juga seluruh pecinta bulu tangkis Indonesia berduka,” ujarnya.

Meski sudah gantung raket, Broto mengatakan Kido masih menjalankan hobinya bermain bulu tangkis. “Jadi dia masih bermain bulu tangkis, setelah gantung raket. Sebelumnya tidak ada tanda-tanda sakit. Di lokasi yang sama, Chandra Wijaya, dia masih sehat dan masih tertawa,” kata Broto.

Rumah duka Markis Kido di Jalan Gemak, Desa Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, sudah dipenuhi kerabat dan karangan bunga. Dipantau Republika, ada karangan bunga dari Presiden Joko Widodo, Menteri Olahraga, Zainudin Amali, Ketua Umum PP PBSI, Agung Firman Sampurna, dan lainnya.

Kemarin, ibunda Kido, Zul Asteria, mengatakan bahwa putranya seperti hidup dan mati di lapangan bulu tangkis. “Dia sepertinya sangat ingin (hidup dan mati) di lapangan kali ini. Saya berdoa agar dia masih bisa bertahan,” kata Zul dalam keterangan tertulis.

“Saya kira hanya stroke, karena tekanan darahnya tinggi dan kemungkinan dia jatuh dan pembuluh darahnya pecah. Saya berdoa seperti itu, tetapi Mas Kido diambil,” lanjutnya.

PBSI menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya dan rasa kehilangan yang besar atas tragedi ini. “Keluarga besar bulu tangkis Indonesia turut berduka cita atas meninggalnya Markis Kido, pahlawan bulu tangkis yang berkali-kali mengharumkan nama Merah Putih di pentas bulu tangkis dunia,” kata Agung Firman Sampurna, Ketua Umum PP PBSI.

“Meninggalnya Kido merupakan kehilangan besar bagi dunia bulu tangkis Indonesia yang saat ini menghadapi Olimpiade Tokyo. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan,” lanjut Agung.

Markis Kido layak disebut sebagai legenda bulu tangkis dengan segala prestasi yang telah diraihnya untuk Merah Putih. Oleh karena itu, PBSI berharap agar suri tauladan pria kelahiran 11 Agustus 1984 ini dapat menjadi inspirasi bagi para penerusnya.

“Dengan prestasi besar seperti juara dunia 2007 di Kuala Lumpur, medali emas Olimpiade Beijing 2008, dan emas Asian Games Guangzhou 2010 bersama Hendra Setiawan, nama Kido begitu harum di pentas dunia. Kami adalah keluarga besar bulu tangkis Indonesia. dan PBSI turut berduka cita atas meninggalnya Markis Kido,” kata Agung.

“Semoga panutan, semangat juang, prestasi besar, dan etos kerja yang telah ditunjukkan Markis Kido selama ini dapat menginspirasi para pebulu tangkis Indonesia untuk mengikuti jejak almarhum,” ujarnya.

Pebulu tangkis nasional Hendra Setiawan melalui akun Instagram-nya juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Markis Kido. Ia mengenang prestasi karir mereka saat masih aktif di timnas dalam kurun waktu 14 tahun.

“Belasungkawa terdalam saya untuk salah satu mitra terbaik saya di suku dan berkabung. Dia adalah pemain yang luar biasa dan sangat berbakat. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk menjadi mitra yang sangat baik bagi saya dalam menang atau kalah. Terima kasih telah bermitra dari mencakar dan berjuang bersama selama 14 tahun. Terima kasih Kido & selamat tinggal,” tulis Hendra melalui akun Instagramnya, Senin.

Saat memimpin ganda putra Tim Nasional PBSI Cipayung, Hendra/Kido sempat menempati posisi teratas sektor ganda putra di peringkat BWF. Namun, prestasi tertinggi mereka di bidang olahraga diperoleh melalui medali emas ganda putra pada Olimpiade Beijing 2008.

Tak hanya medali emas olimpiade, sederet prestasi kejuaraan dari ajang bulu tangkis nasional dan internasional juga telah diraih Hendra/Kido, antara lain:

1. Asean Games 2005, Filipina
2. Kejuaraan Bulu Tangkis Asia 2005, India
3. Piala Dunia BWF 2006
4. Asean Games 2007, Thailand
5. Juara Dunia BWF 2007 Kuala Lumpur, Malaysia
6. Asean Games 2009, Laos
7. Asian Games 2010 Guangzhou, Cina
8. Kejuaraan Bulu Tangkis Asia 2009, Korea Selatan
9. Dan 10 gelar dari BWF Super Series 2007-2013

Kido, meninggalkan nama baik untuk Indonesia. Ia merupakan salah satu dari 11 atlet yang menyumbangkan medali emas di ajang olahraga dunia.

Markis Kido rencananya akan dimakamkan di TPU Kebon Nanas, Jakarta Timur.



https://www.republika.co.id/berita/quq4d9328/158-skor-terakhir-markis-kido-di-lapangan-bulu-tangkis