3 Catatan Penting Mengenai Rencana Reshuffle Kabinet

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wacana Reshuffle Kabinet Indonesia Maju jilid 2 semakin mengemuka setelah penggabungan Kementerian Pendidikan dan Teknologi dan pembentukan Kementerian Penanaman Modal disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam Sidang Paripurna April 9, 2021.

    Terkait wacana perombakan kabinet, Direktur Eksekutif Citra Institute Yusa Farchan membuat tiga catatan penting.

    Pertama, perombakan kabinet harus berdampak positif sekaligus mengembalikan kepercayaan publik atas penyelenggaraan pemerintahan yang akuntabel, kredibel dan berorientasi pada kepentingan publik.

    “Reshuffle tidak hanya menjadi wacana dan urusan kelompok elit, tetapi juga menyangkut kehidupan banyak orang. Sirkulasi dan penyegaran anggota kabinet diperlukan untuk menjamin terlaksananya tata pemerintahan yang baik berdasarkan kepentingan publik yang lebih luas,” ujarnya, Senin (19/9). 4/2021) di Jakarta.

    Dalam konteks ini, menurut Yusa dibutuhkan sosok menteri yang tidak hanya kompeten, tetapi juga inovatif, berani, dan mampu menciptakan terobosan baru dalam kebijakan pemerintah.

    Kedua, reshuffle tentu menjadi hak prerogatif Presiden. Publik hanya bisa berspekulasi dan sekaligus menaruh harapan besar akan pembongkaran kabinet.

    Yang hanya bisa dipastikan, reshuffle tersebut akan menyasar dua pos kementerian berdasarkan perubahan nomenklatur baru. Pertama, pos Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Dikbud / Ristek). Kedua, Kementerian Investasi.

    Baca juga: UPDATE Reshuffle Isu: Penampakan Menantu Wapres Terhadap Pernyataan Sekjen Muhammadiyah

    Soal Kemdikbud, kalau skenarionya ganti menteri, menurut saya ini saat yang tepat untuk menggantikan Nadiem Makarim. Nadiem memang pantas di-reshuffle karena tidak memiliki visi yang jelas dalam penataan sistem pendidikan nasional seperti dasar pembentukan karakter bangsa, ”ujarnya.

    Menurutnya, Nadiem belum bisa berperan penting sebagai navigator pendidikan nasional dalam menghadapi keadaan darurat Covid-19 sehingga entitas di dunia pendidikan seolah menjalankan skema sendiri di era pandemi.

    Kepemimpinannya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga belum mampu menghasilkan inovasi-inovasi penting dalam dunia pendidikan sehingga patut untuk dievaluasi.




    Source