3 Strategi Menghadapi Tren Ancaman Cyber ​​yang Meningkat

    Penelitian terus dilakukan sesuai dengan kebutuhan untuk menghadapi ancaman dunia maya

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tren ancaman serangan siber akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi.

    Oleh karena itu, menurut Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya), Bambang Karsono, perlu dilakukan penelitian yang berkesinambungan untuk dapat mengatasi berbagai teknik, taktik dan strategi cyber defense.

    Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu dampak negatif dari perkembangan dunia siber melalui internet adalah kejahatan berupa pelanggaran hukum atau cyber crime.

    “Salah satu dampak negatif perkembangan dunia siber melalui internet antara lain adalah kejahatan berupa pelanggaran hukum, yang jika eskalasinya semakin meluas dapat mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keamanan nasional,” kata rektor berlatar belakang polisi, Kamis (19/8). ).

    Demikian disampaikan Bambang Karsono dalam kuliah umum bertema “Cyber ​​Security & Digital Forensics” yang diselenggarakan secara online oleh Fakultas Ilmu Komputer Ubhara Jaya pada Rabu (18/8). Menurut Bambang, keamanan siber adalah tindakan untuk melindungi informasi di dunia maya dari berbagai serangan.

    Oleh karena itu, lanjutnya, setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan secara konsisten. Pertama, peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Kedua, penataan proses tata kelola keamanan informasi. Sedangkan yang ketiga adalah teknologi sebagai integrator solusi dan pengembangan produk.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, jejak digital merupakan kumpulan jejak dari seluruh data digital, baik dokumen maupun akun digital.

    Jejak digital dapat disimpan di komputer tanpa terhubung ke internet atau disimpan secara online (terhubung ke internet).

    Menurut Bambang, jejak digital tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang menyasar pemilik jejak digital. Apalagi jika pemilik jejak digital tersebut memiliki jejak yang buruk dan dapat merugikan dirinya sendiri.

    “Karena perilaku di dunia maya dapat mencerminkan sikap dan perilaku di dunia nyata, maka sebisa mungkin jangan mengunggah dan menulis hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri saat menggunakan internet dan media sosial,” jelas Bambang.

    Sementara itu, Dekan Fasilkom Ubhara Jaya, Tyastuti Sri Lestari menjelaskan kuliah umum ini untuk mendukung dosen dan mahasiswa program studi Informatika untuk menambah portofolio khususnya bagi mahasiswa yang ingin mendapatkan sertifikat kompetensi di bidang keamanan siber. skema analis di LSP P1 Ubhara Jaya.

    “LSP P1 Ubhara Jaya telah memperoleh pendaftaran Skema Analis Keamanan Siber dari Badan Siber dan Sandi Negara pada 1 Juli 2021, berlaku hingga 25 Februari 2024,” kata Tyas saat memberikan sambutan pada kuliah umum yang digelar dihadiri 256 peserta.



    https://www.republika.co.id/berita/qy32az320/3-strategi-hadapi-tren-ancaman-siber-yang-terus-berkembang