Ahli: Lempeng Selatan Malang mudah pecah

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG – Guru Besar Geofisika Bencana dan Eksplorasi Sumber Daya Alam Universitas Brawijaya (UB), Profesor Adi Susilo mengatakan, lempeng di wilayah selatan Malang termasuk yang lama. Artinya, lempengan-lempengan tersebut mudah pecah sehingga berpotensi mengalami gempa bumi.

Berdasarkan analisis Adi, potensi gempa bumi dengan magnitudo 6 sampai 7 di selatan Kota Malang sebenarnya kecil. Begitu juga dengan kekuatan 8 dan 9 SR, potensi yang terjadi di Malang sangat kecil. “Yang enam itu langka. Yang (besarnya) empat dan lima lumayan banyak,” kata Adi saat dihubungi. Republika, Minggu (11/4).

Adi sendiri sudah merilis hasil analisisnya tentang gempa 2006 silam. Hal itu dilakukan setelah Indonesia banyak dilanda gempa bumi, baik di Yogyakarta, Pangandaran dan lain sebagainya. Kejadian ini membuat panik masyarakat dan menebak-nebak waktu terjadinya gempa bumi di Indonesia.

Dalam salah satu analisisnya, Adi memfokuskan pada periodisasi gempa bumi besar yang terjadi di Jawa Timur (Jatim). Jawa Timur pernah mencatat gempa besar pada tahun 1967. Tidak ada yang tahu magnitudo gempanya, mengingat alat pendeteksiannya belum secanggih sekarang.

Berdasarkan laporan yang ada, gempa tahun 1967 memberikan dampak yang cukup signifikan. “Begitu banyak kerusakan di Dampit, kawasan Gondanglegi, ke barat banyak yang rusak. Bagian tengahnya juga belum modern saat itu. Jadi tidak diketahui berapa kekuatannya, hanya kisaran kerusakan di kawasan ini. Ada rumah-rumah tinggal. hancur dan mati. Itu saja, “kata Adi.

Selanjutnya gempa besar di Jawa Timur kembali terjadi pada tahun 1994. Gempa yang terjadi di Banyuwangi tercatat berkekuatan 7,6 SR. Kejadian ini mengakibatkan kerusakan rumah, ratusan warga luka-luka dan meninggal dunia.

Dari catatan sejarah gempa ini, Adi juga memetakan periodisasi gempa besar yang mungkin terjadi setiap 20 hingga 30 tahun sekali. Analisis Adi pada 2006 menyimpulkan bahwa peristiwa itu kemungkinan besar terjadi pada 2010 atau 2020. “Itu memang 27 tahun (jauh dari 1994). seperti itu pas juga 27 tahun, ”ucapnya.

Meski Jawa Timur berpotensi gempa besar, bukan berarti masyarakat harus panik. Yang perlu diterapkan setiap warga negara adalah kewaspadaannya. “Biasa tapi dalam posisi waspada. Yang utama ya,” ucapnya.


Source