Akibat pandemi tersebut, pendapatan masyarakat Bali mengalami penurunan hingga 40,6 persen

Sektor pariwisata yang sejak awal tahun lalu mulai merasakan dampak pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah menyatakan masyarakat di Bali mengalami penurunan pendapatan sebesar 40,67 persen akibat pandemi Covid-19. Dari data tersebut, kelompok miskin dan rentan paling banyak terkena dampak karena mereka bekerja di sektor informal.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan sektor pariwisata sudah mulai merasakan dampak pandemi Covid-19 sejak awal tahun lalu.

“Masyarakat dengan penghasilan kurang dari Rp 1,8 juta per bulan paling terkena dampaknya, yakni mencapai 67,65 persen.” Kemudian 52,6 persen pekerja dengan penghasilan Rp. 1,8 juta sampai dengan Rp. 3 juta juga mengalami penurunan pendapatan, ”ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (9/4).

Sebanyak 42,51 persen pekerja dengan gaji Rp 3 juta hingga 4,8 juta juga mengalami penurunan pendapatan. Mereka yang memiliki gaji Rp 4,8 juta hingga 7,2 juta juga terkena imbas yakni 36,83 persen. Sedangkan pekerja dengan gaji di atas Rp 7 juta mengalami penurunan pendapatan sebanyak 41,28 persen, ”jelasnya.

Dari sisi wisata, lanjut Sri Mulyani, sepanjang 2020 dikunjungi sebanyak 1,1 juta wisatawan mancanegara. Angka tersebut sangat berbeda dengan tahun sebelumnya yang mampu menampung kedatangan 6,3 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung.

Sedangkan kunjungan wisatawan domestik hanya 4,6 juta orang, dari tahun 2020 sebelumnya yang bisa mencapai 10,5 juta wisatawan.

Penurunan kunjungan wisatawan mancanegara atau wisatawan nusantara disebabkan oleh kebijakan pemerintah dan negara lain yang membatasi pergerakan manusia guna mengendalikan penyebaran virus corona, ”ujarnya.

Meski begitu, sepanjang tahun 2020 tingkat okupansi hotel berbintang di Bali mulai menunjukkan peningkatan. Tercatat pada Desember 2020 tingkat okupansi hotel berbintang mencapai 19,5 persen. Namun kondisi ini kembali menurun pada Januari dan Februari 2021, masing-masing pada tingkat hunian hotel berbintang menjadi 11,5 persen dan 8,99 persen.

“Bali itu daerah tujuan wisata, jadi karena masyarakat harus betah dan menjalankan disiplin kesehatan, jelas akan berdampak negatif yang luar biasa,” ujarnya.




Source