Amerika Serikat Mendorong Sekutu Menanggapi China Tentang Xinjiang

Amerika Serikat telah mendesak sekutu G7-nya untuk mengambil sikap terhadap Muslim Xinjiang

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Amerika Serikat (AS) akan mendesak sekutu Kelompok Tujuh (G7) untuk meningkatkan tekanan terhadap China terkait kerja paksa di Provinsi Xinjiang. Rumah bagi minoritas Muslim Uighur.

Presiden AS Joe Biden akan menghadiri pertemuan G7 secara langsung di Inggris Juni mendatang. Diperkirakan, Biden akan fokus pada isu yang dianggapnya sebagai benturan strategis antara negara-negara demokratis dan otokratis, khususnya China.

Wakil Penasihat Keamanan Nasional untuk Presiden Amerika Serikat dan Wakil Direktur Dewan Ekonomi Nasional, Daleep Singh, mengatakan pertemuan G7 di Cornwaal akan fokus pada keamanan kesehatan, menyinkronkan respons ekonomi dengan dampak pandemi Covid-19, konkret. tindakan terhadap perubahan iklim.

Singh menambahkan, dalam pertemuan tersebut Amerika Serikat juga menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi negara-negara G7. “Ini adalah sekutu yang sepaham, dan kami ingin mengambil tindakan konkret dan konkret untuk menunjukkan kesiapan kami berkoordinasi dengan ekonomi non-pasar seperti China,” kata Singh yang turut membantu mengoordinasikan pertemuan, Sabtu (24/4).

“Tantangan berat bagi G7 adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat terbuka bahwa masyarakat demokratis masih memiliki kesempatan untuk mengatasi masalah terbesar di dunia, dan otokrasi dari atas ke bawah bukanlah jalan terbaik,” tambahnya.

Singh mengatakan Amerika Serikat telah mengambil tindakan tegas terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan China di Xinjiang. Tetapi Washington ingin mendapatkan dukungan dari sekutu G7-nya.

Bulan lalu Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, dan Kanada menerapkan sanksi bersama terhadap pejabat China yang diduga melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang.

China menyangkal semua tuduhan pelanggaran hak asasi manusia ini dan menanggapinya dengan menjatuhkan sanksi kepada Uni Eropa. Singh mengatakan dia masih mengerjakan detail pertemuan Juni itu.

Menurutnya, pertemuan ini memberikan kesempatan kepada sekutu AS untuk menunjukkan solidaritasnya terhadap masalah ini. “Kita sudah perjelas, konsumen harus tahu kapan barang impor diproduksi dengan kerja paksa,” katanya. “Nilai-nilai kita perlu ditanamkan ke dalam hubungan perdagangan kita,” tambah Singh.

Washington, lanjut Singh, ingin mengklarifikasi langkah-langkah G7 “untuk menjunjung nilai-nilai bersama”. “Sebagai negara demokrasi dan jelas itu berlaku untuk apa yang terjadi di Xinjiang,” katanya.

Aktivis dan pakar PBB mengatakan setidaknya 1 juta Muslim dikirim ke kamp penahanan di Xinjiang. Aktivis dan politisi Barat menuduh China menggunakan penyiksaan, kerja paksa, dan sterilisasi. China mengatakan kamp-kamp itu menyediakan pelatihan kerja dan dibutuhkan untuk memerangi ekstremisme.

Pada Jumat (23/4) kemarin Gedung Putih mengatakan pada Juni Biden akan mengunjungi Inggris dan Belgia pada kunjungan luar negeri pertamanya sebagai presiden. Perjalanan ini termasuk KTT G7 di Cornwall, Inggris dari 11 hingga 13 Juni.

sumber: Reuters




Source