Anggaran Terjun Bebas Sejumlah Kegiatan Rutin Bidang Pembinaan Ketenagaan Dikbud Hilang Tahun 2019

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Sejumlah kegiatan rutin di Bidang Pembinaan Ketenagaan Sub Seksi Pembinaan Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa, dipastikan hilang pada tahun anggaran 2019 mendatang.
Itu terjadi karena menyusutnya porsi anggaran yang dikelola. Bayangkan tahun depan dana yang dikelola hanya Rp 100 juta. Itu pun hanya operasional saja. Bandingkan dengan anggaran yang dikelola untuk tahun 2018, sebesar Rp 900 juta. “Iya, betul ada beberapa kegiatan rutin kita yang tahun depan tidak bisa kita laksanakan. Anggarannya terjun bebas,” ungkap Kasi Pendidik Pendidikan Dasar Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa, Sutan Syahril, SSos.
Kegiatan rutin yang dipastikan hilang ini seperti Diklat peningkatan kompetensi guru dan Diklat peningkatan kompetensi pendidik.
Ada juga seleksi guru, kepala sekolah dan pengawas jenjang SD dan SMP serta seleksi guru, kepala sekolah dan pengawas berdedikasi bagi mereka yang bertugas di daerah terpencil yang ikut sirna.
Padahal prestasi Kabupaten Sumbawa, di tingkat nasional khusus untuk seleksi guru, kepala sekolah dan pengawas berprestasi serta seleksi guru, kepala sekolah dan pengawas berdedikasi cukup baik. Tahun ini saja untuk seleksi guru, kepala sekolah dan pengawas berprestasi, Sumbawa mampu mengirimkan dua wakilnya ke nasional, untuk kategori Guru dan Pengawas Berprestasi.
Meski keduanya gagal meraih prestasi, tapi setidaknya mereka mampu menunjukkan bahwa kualitas tenaga pendidik di Sumbawa, juga mumpuni.
Lain lagi dengan seleksi guru, kepala sekolah dan pengawas berdedikasi. Salah satu Pengawas asal Sumbawa, yang mewakili NTB, ke nasional berhasil meraih juara pertama. “Untuk seleksi calon kepala sekolah, tahun depan juga tidak bisa kita laksanakan,” kata Sutan Syahril.
Cukup disayangkan memang, sebab tahun 2019 nanti, ada sekitar 70 kepala SD yang kosong karena memasuki masa pensiun. Jumlah ini bisa saja bertambah, manakala ada diantara kepala sekolah nantinya yang meminta pensiun dini atau meninggal dunia. “Sampai Desember 2018 ini saja, ada 43 kepala SD yang lowong. Itu belum termasuk Pengawas. Tahun depan itu, ada 23 Pengawas yang pensiun. Kalau untuk Pengawas kita tidak terlalu pusing, karena anggaran untuk seleksinya (Calon Pengawas) ada, cuman hanya untik 20 orang saja,” sebutnya.
Lalu bagaimana dengan calon kepala SMP ? “Untuk SMP, kita sudah punya stok 5 orang. Mereka ini sudah lulus diklat calon kasek tahun 2016,” pungkasnya.