Antara Ayat Qishash dan Perintah Puasa

Bom bunuh diri adalah tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

REPUBLIKA.CO.ID, ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan dalam Alquran sebenarnya terkait dengan susunan ayat sebelumnya yang mengandung qishash (pembunuhan). Lantas apa makna tersirat dari komposisi ayat-ayat ini?

Mengenai ayat tentang puasa, Allah SWT bersabda dalam QS Al-Baqarah ayat 183: “Ya ayyuhalladzina aamanuu kutiba alaikumusshiyaamu kamaa kutiba alal-ladzina min qablikum la’allakum tattaqun. Artinya: “Hai orang yang beriman, wajib bagimu berpuasa seperti yang dituntut dari orang-orang di hadapanmu, agar waspada.”

Pakar ilmu Alquran Prof KH Ahsin Sakho menjelaskan bahwa ayat tersebut disusun setelah ayat tentang qishash diturunkan. Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-Baqarah penggalan ayat 178: “Ya ayyuhalladzina aamanuu kutiba alaikuml-qishashu fil-qatla. Yang artinya: “Hai orang yang beriman, maka wajib qishash bagimu tentang orang yang dibunuh.”

Menurutnya, ayat tentang kewajiban berpuasa diturunkan setelah ayat tentang qishash karena qishash adalah perbuatan yang diidentikkan dengan perilaku buruk. “Kenapa ada yang membunuh? Karena sifatnya buruk. Jadi ayat shaum (puasa) diturunkan setelah ayat qishash, jadi harus berpuasa,” kata Kiai Ahsin saat dihubungi Republika, Rabu (7/4).

Kewajiban berpuasa merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada manusia guna meningkatkan ketakwaan. Menurutnya, puasa sangat erat kaitannya dengan psikis yang dapat menguji relung hati seseorang agar senantiasa dipenuhi dengan Allah SWT.

Jika seseorang bisa menjalankan puasanya dengan baik, itu berarti dia takut kepada Allah SWT. Dia mampu melarikan diri dan menaiki tangga kesalehan yang lebih tinggi. Seperti diketahui, dalam berpuasa umat Islam tidak hanya dinasehati untuk menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga menahan diri dari nafsu.

Oleh karena itu, menurutnya, melakukan pembunuhan atau melakukan bom bunuh diri merupakan perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Apalagi, kata dia, dalam Islam perbuatan membunuh termasuk dalam tujuh dosa besar yang disampaikan Nabi.

Dalam sebuah riwayat, Nabi bersabda: “Ijtanibuu as-sab’a al-mubiqaati. Qaaluu: ya Rasulallahi, wa maa hunna, qaala: as-syirku billahi, wassihru, wa qatlu an-nafsi allati harramallahu illa bil-haqqi, wa aklurribaa, wa aklu maalil-yatimi, wattawalli yauma azzahfi, wa qadful-muhshinaati al-mu ‘minaati al-ghaafilaati. “

Artinya: “Jauhkan dari tujuh (dosa besar) yang menghancurkan. Mereka (sahabat Nabi) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah mereka?’ Nabi pun menjawab: menyekutukan Allah, membunuh jiwa yang dilarang Allah tanpa alasan yang sah, mengkonsumsi riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita beriman yang ceroboh dalam berzina, “

“Selama puasa apalagi membunuh, menghina itu tidak dibolehkan, kalau kita ingin membalas hinaan seseorang, kamu harus mengatakan: ana shaaim (saya puasa),” katanya.




Source