Antisipasi Lonjakan Covid-19, DKI Perluas PPKM Mikro

    Fasilitas kesehatan di DKI telah disiapkan untuk menghadapi penambahan kasus aktif.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali memperpanjang pemberlakuan PPKM Mikro di wilayah ibu kota hingga 31 Mei 2021. Hal ini juga sebagai upaya mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 pasca Lebaran.

    Perpanjangan kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Gubernur (Kepgub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 615 Tahun 2021 dan Instruksi Gubernur (Ingub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 34 Tahun 2021. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta (Dinkes) Widyastuti mengatakan, berdasarkan pengalaman menangani tahun-tahun pandemi Covid-19. Pada tahun 2020, terjadi lonjakan kasus aktif setelah hari raya Idul Fitri.

    “Tahun ini, Pemprov DKI Jakarta mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk mengantisipasi lonjakan tersebut. Termasuk memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Mikro Masyarakat (PPKM) hingga 31 Mei 2021,” kata Widyastuti dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/8). / 5).

    Widyastuti mengungkapkan, peningkatan kasus aktif di Jakarta berfluktuasi dalam dua pekan terakhir. Ia merinci, terjadi peningkatan kasus aktif dari 7.039 pada 3 Mei 2021 menjadi 7.266 pada 15 Mei 2021.

    Kemudian, akhirnya turun menjadi 7.146 pada 16 Mei 2021. “Memang terjadi penurunan 120 kasus dari 15-16 Mei 2021. Namun, kami akan tetap mewaspadai peningkatan kasus dalam dua minggu ke depan, terutama sejak ini periode adalah periode setelah Idul Fitri. Fitri, ”jelasnya.

    Selain itu, Widyastuti juga memastikan fasilitas kesehatan di DKI Jakarta siap menghadapi penambahan kasus aktif. Ia mengatakan, hingga 17 Mei 2021, pihaknya telah menyiapkan 6.633 tempat tidur isolasi dan 1.007 fasilitas ICU.

    Menurutnya, berdasarkan kapasitas tersebut, tingkat pengisian juga tergolong terkendali. Dimana tempat tidur isolasi telah terisi 1.724 atau 26 persen dan ICU terisi 338 pasien atau 34 persen.

    Artinya kapasitas tempat tidur isolasi dan ICU masih di atas 50 persen, ujarnya.

    Lebih lanjut Widyastuti mengatakan, pihaknya terus memantau dan mewaspadai klaster mudik. Sebab, jelasnya, dari pengalaman libur Nataru (Natal dan Tahun Baru) dan Idul Fitri tahun sebelumnya, mayoritas warga DKI Jakarta berwisata ke wilayah Jawa, Bali, dan Sumatera Utara.

    Ia mengatakan mayoritas penduduk berwisata menggunakan mobil pribadi. Sehingga diperlukan bantuan informasi dari RT, RW, dan kader untuk mengidentifikasi pelaku mudik. Termasuk untuk mengantisipasi kebutuhan bus dan rute perjalanan.

    “Meski pemerintah sudah mengimbau masyarakat untuk tidak pulang dan melakukan isolasi, namun kami tetap mewaspadai potensi cluster yang dihasilkan dari perjalanan ini,” ujarnya.

    Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan kebijakan Pemprov DKI Jakarta untuk menyaring warga yang baru melakukan mudik merupakan salah satu cara untuk mendeteksi potensi penularan Covid-19. Anies menegaskan, kebijakan ini bukan berarti melarang orang masuk ke Jakarta.

    Anies menyatakan, antisipasi lonjakan kasus Covid-19 pasca Lebaran masih akan dilakukan hingga pekan depan. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta akan terus menyaring warga hingga ke tingkat RT / RW.

    “Saya garis bawahi, kebijakan Jakarta tidak pernah melarang orang masuk ke Jakarta, tapi ini melakukan skrining untuk mendeteksi warga Jakarta yang tidak berpergian, menuruti anjuran, dilindungi,” kata Anies di Gedung Balaikota DKI Jakarta, Senin (17/2). / 5).

    Anies menegaskan, Pemprov DKI Jakarta beserta jajarannya akan menyaring para pemudik yang masuk ke Jakarta. Penapisan dilakukan dalam dua lapisan, yaitu lapisan pertama di pintu masuk Jakarta dan lapisan kedua di tingkat komunitas.

    Anies mengatakan, Satgas RT / RW berkoordinasi dengan jajaran Camat, Lurah, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa untuk mendata warga yang masuk ke kawasan secara bersama-sama.

    “Jadi ketua RT, ketua RW, satgas akan mengerjakannya pemantauan Sehingga seluruh warga yang datang akan di pantau, diperiksa kondisinya, dipastikan yang bersangkutan dalam keadaan sehat, tidak ada gejala apapun. Dan, nanti akan dilakukan rapid antigen test, ”kata Anies.




    Source