Apakah Tes Cepat Berbuka Puasa? Bagaimana dengan Bekam?

    Yang membatalkan puasa adalah sengaja makan, minum, jima, dan muntah.

    REPUBLIKA.CO.ID, dirawat oleh Ustadz Dr Oni Sahroni

    Tes cepat adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan mengambil sampel darah dari ujung jari. Setelah itu, sampel darah diteteskan ke alat tersebut tes cepat untuk mengetahui apakah darah tersebut mengandung antibodi yang menunjukkan orang tersebut telah atau telah mengalami infeksi virus atau tidak.

    Tujuan dari tes antigen adalah untuk mengetahui apakah Anda terinfeksi virus, memang ada virus dan berpotensi menularkan. Sedangkan tes antibodi untuk mendeteksi apakah seseorang pernah terinfeksi. Sampel untuk tes antigen adalah swab nasofaring. Sedangkan sampel uji antibodi adalah darah.

    Dari sisi syariah, pembahasan rapid test terkait dengan hal-hal berbuka puasa. Diantara mereka yang berbuka puasa adalah makan, minum, jima ‘, dan muntah yang disengaja. Intinya, memasukkan sesuatu ke dalam tubuh atau mengeluarkan sesuatu dari tubuh.

    Para ulama berpendapat bahwa makan, minum, dan muntah membatalkan puasa. Lebih jauh, para ulama berbeda pendapat tentang apakah selain empat hal, apakah memasukkan sesuatu ke dalam lubang biasa (seperti mulut) atau apa yang tidak (seperti suntikan ke kulit), atau mengeluarkan sesuatu dari tubuh membatalkan puasa atau tidak?

    Meskipun tes cepat Hal ini belum pernah dibahas dalam buku-buku klasik, nyatanya terdapat permasalahan yang serupa, seperti bekam yang bisa menjadi rujukan karena zat yang sama yaitu mengeluarkan darah dari dalam tubuh.

    Lebih lanjut, para ulama berbeda pendapat jika hendak berbuka puasa atau tidak. Ibn Rusyd mengatakan bahwa alasan perbedaan ini adalah perbedaan makna dari kedua hadits / atsar tersebut. Pertama, hadits diriwayatkan oleh Tsauban dan dari Rafi ‘bin Hudaij.

    “Rasulullah SAW bersabda, berbuka puasa bagi yang mencengkeram dan yang mencengkeram.” (Divalidasi oleh Imam Ahmad). Kedua, riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas, “Rasulullah SAW bekerja dengannya dan berpuasa.”

    Berdasarkan kedua hadits tersebut, para ulama memilih salah satu hadis ini atau mengkompromikan keduanya, seperti sahabat Ali, Awza’i, Ahmad, Daud, Al-Auza’i, dan Ibn Hibban, mengemukakan bahwa orang yang berpegang teguh pada pelanggar. puasa dan wajib qadha.

    Sementara itu, mereka yang tidak mengambil kedua hadis (karena bertentangan satu sama lain) mengembalikannya ke aturan al-bara’ah al-ashliyyah tanpa kewajiban. Mereka yang mayoritas ahli fiqh (Aisyah, Umu Salamah, Ibnu Abbas, Ibn Umar, Ibnu Mas’ud, Hasan al-Basri, Malik, dan Syafi’i) berpendapat bahwa bekam tidak membatalkan puasa (Bidayatul Mujtahid / 232 dan Paku). al- Authar 4/238).

    Ibn Rusyd berkata, “Ahmad, Daud, Al-Auza’i, dan Ishaq bin Rohawi; bekam itu membatalkan puasa dan qadha wajib. Namun, makruh dan tidak batal menurut Malik dan Syafi’i. Sedangkan menurut Abu Hanifah itu diperbolehkan ”. (Bidayatul Mujtahid / 232).

    Berdasarkan penjelasan ini, tes cepat saat puasa diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa. Lain halnya dengan bekam yang diilhami oleh mayoritas ahli fiqh.

    Allah Maha Tahu.




    Source