APTRI Anjurkan Peningkatan HPP dan HET Gula Pertanian

    Harga patokan gula pertanian Rp 9.100 per kilogram sudah enam tahun tidak naik.

    REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS – Asosiasi Petani Tebu Indonesia (APTRI) mengusulkan kepada pemerintah untuk menaikkan harga acuan gula pertanian (HPP) dan HET gula pertanian. Hal itu dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan petani tebu dan mewujudkan swasembada gula yang berdaya saing di Indonesia.

    “Harga acuan gula pertanian Rp 9.100 per kilogram dan harga eceran tertinggi (HET) gula Rp 12.500 per kilogram belum naik selama enam tahun. Padahal HPP masih jauh di bawah harga pokok produksi (BPP). ), saat ini Rp 11.000 per kg., ”kata Ketua APTRI Soemitro Samadikoen melalui rilis yang diterima, Sabtu (10/4).

    Ia mengungkapkan, rekomendasi tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APTRI yang dilaksanakan di Jakarta 9 April 2021 dan menghasilkan 10 rekomendasi untuk pemerintah. Diantara rekomendasinya adalah terkait HPP dan HET gula pertanian.

    Menurut dia, HET Rp 12.500 per kg terlalu rendah dan mendekati BPP gula pertanian sehingga margin distribusi dirasa sangat ketat, akibatnya harga gula pertanian ditekan. Untuk itu, APTRI mengusulkan agar Mendag menaikkan HPP gula usahatani sebesar Rp 11.500 per kg dengan asumsi ada keuntungan yang wajar dari usahatani tebu selama setahun. Proposal HPP juga dinilai tidak memberatkan konsumen.

    APTRI juga mengusulkan revisi Permendag nomor 1/2019 tentang Perdagangan Gula Rafinasi, yakni melepas koperasi dalam mata rantai distribusi gula rafinasi sehingga perlu menghapus pasal 5 ayat 2 dan pasal 6. Dengan adanya koperasi sebagai penyalur. itu akan memperpanjang rantai distribusi dan meningkatkan kebocoran.

    “Sebaiknya penjualan gula rafinasi dikembalikan dari aslinya, yakni dari produsen rafinasi langsung ke pengguna industri makanan dan minuman. Impor gula konsumsi (GKP) juga perlu dibatasi agar tidak mengganggu gula petani,” katanya. dia berkata.

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal APTRI M Nur Khabsyin menambahkan, APTRI juga mendesak pemerintah meminta importir gula membeli gula dari petani untuk musim giling 2021 setidaknya sama dengan tahun lalu Rp 11.200 per kg. Sehingga masalah penumpukan gula pertanian di gudang bisa teratasi dan petani juga mendapat keuntungan.

    Rekomendasi lainnya adalah subsidi pupuk tidak dikurangi karena saat ini petani sulit mendapatkan pupuk bersubsidi dan kebijakan distribusi pupuk juga dikembalikan ke sistem semula.

    “Kredit Usaha Rakyat untuk petani tebu juga diharapkan memudahkan persyaratannya. APTRI juga mendorong pemerintah untuk menyediakan benih unggul bersubsidi dengan potensi hasil tinggi dan harga terjangkau,” ujarnya.

    Sementara itu, perusahaan gula disarankan untuk tidak menjual gula di bawah harga jual gula milik petani agar harganya tidak turun.

    sumber: Antara




    Source