Atasi Gagal Panen, Dinas Pertanian KSB Gunakan Mesin Pompa Air

Sumbawa Barat, Gaung NTB
Meski musim kemarau kali ini berdampak terhadap sektor pertanian, namun hal itu sepertinya masih bisa diatasi dengan menempuh berbagai alternatif, sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan produk pertanian.

Hal itu dikarenakan,  Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), saat ini mendata kecamatan yang sektor pertaniannya rusak terkena dampak dari musim kemarau. Seperti di Kecamatan Seteluk, 647 Hektar sawah padi di sana terancam fuso atau gagal panen. Ini diakibatkan musim kemarau yang datangnya lebih awal. Alhasil, petani setempat dibuat kebingungan untuk menyelamatkan tanaman padi miliknya yang umurnya bervariasi.  

Menurut Kabid Pertanian, Syaiful Ulum, kekeringan di wilayah tersebut masuk kategori berat karena tanahnya kering bahkan retak. Kondisi ini diperparah dengan akses air sulit dan debit air semakin menyusut. “Kita enggak tahu seperti apalagi akan berbuat membantu petani. Kekeringan cukup komplek dan kian meluas,” ujarnya.         

Ancaman fuso atau gagal panen ini, jelas Syaiful, di luar prediksi petani. Mengingat tahun-tahun sebelumnya, musim tanam dua kali hingga panen berjalan normal. Namun tahun ini, petani tidak tahu harus berbuat apa-apa. Kemungkinan besar, tanaman padi itu akan di potong untuk pakan ternak oleh petani sekitar. “Kalaupun membuat sumur bor darurat, belum tentu mengeluarkan air mengingat kondisi semakin terik,” tandasnya.
Kondisi ini, berbeda dengan di Kecamatan Taliwang, yang juga mengalami kekeringan. Tapi masih kekeringan ringan. Artinya, masih ada harapan untuk diselamatkan. “Untuk itu, kami berdayakan petani dengan mesin pompa air untuk mengairi padinya, agar tidak mengalami gagal panen. Dari delapan kecamatan, dua kecamatan itu yang menjadi attensi kekeringan,” ujar Syaiful.

Menurutnya, kondisi gagal panen itu akan turut mempengaruhi target produksi padi dari tanah Pariri Lema Bariri.
Kendati demikian, bukan berarti KSB gagal surplus gabah. Pasalnya, luas tanam produktif Kecamatan Taliwang dan Seteluk, hampir sama luas yaitu 2500 hektar. Bisa di terjemahkan, bahwa musibah tersebut hanya sebagian kecil.

Lepas dari itu, pihaknya meminta petani untuk mengikuti asuransi pertanian tahun depan. Karena ada jaminan yang bisa di klaim jika terjadi musibah kekeringan seperti ini. Artinya, petani tidak terbebani dengan gagal panen.