Bahas Relokasi, Pemkab Indramayu Akan Berdiskusi dengan Warga

Ada sekitar 1.600 rumah yang terkena dampak kebakaran kilang Balongan.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Pemerintah Kabupaten Indramayu (Pemkab) akan mengundang warga di sekitar kilang PT Pertamina RU VI Balongan untuk membahas kemungkinan relokasi. Ribuan rumah warga terkena dampak ledakan dan tembakan tank di kilang tersebut.

Hal itu diungkapkan Wakil Bupati Indramayu Lucky Hakim. Ia mengatakan, diskusi itu diperlukan untuk mendengarkan secara utuh aspirasi warga terkait kemungkinan relokasi atau tinggal di lokasi saat ini.

“Kami akan mengumpulkan warga untuk membahas masalah tersebut. Kami ingin melihat secara keseluruhan seperti apa,” kata Lucky, saat berada di Cirebon, Kamis (8/4).

Lucky ingin memastikan wacana relokasi itu menjadi keinginan sekelompok warga atau seluruh warga sekitar kilang. Dengan mengajak warga bertemu dan berdiskusi, maka bisa diketahui.

Lucky menambahkan, merelokasi warga bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, harus dipikirkan dan direncanakan dengan matang.

Sementara itu, saat ditanya kelanjutan insiden kebakaran tangki pada Senin (29/3), Lucky mengatakan, apinya sudah padam. Ratusan warga yang mengungsi telah kembali ke rumah.

Kata Lucky, ada sekitar 1.600 rumah yang terkena dampak warga. Namun kerusakan hanya ringan sampai sedang, tidak ada kerusakan pada rumah yang tergolong parah.

Sedangkan mengenai ganti rugi rumah yang rusak, kata Lucky, saat ini mekanismenya sudah berjalan. Nilai ganti rugi harus dihitung dengan cermat agar sesuai dengan kondisi yang ada. “Saya yakin Pertamina tidak akan lari dari tanggung jawabnya,” Beruntung.

Terpisah, warga Blok Kesambi, Desa Sukaurip, Kecamatan Baongan, Faridah (30 tahun) berharap relokasi bisa dilakukan. Ia mengaku trauma dengan ledakan dan kebakaran dahsyat di tangki di Kilang Pertamina RU VI Balongan.

Selain itu, Faridah sangat terganggu dengan bau menyengat yang berasal dari kilang Pertamina Balongan. Dia juga mengkhawatirkan pertumbuhan dan perkembangan anaknya karena menghirup baunya selama bertahun-tahun.

“Selama bertahun-tahun, kami sering mencium bau bensin, bau gas, bau kabel terbakar, dan debu. Kami ingin pindah,” kata Faridah saat ditemui. Republika di GOR Bumi Patra, Senin (5/4).




Source