Berkat Spirit of Friends, Riduan berhasil meraih Juara 3 di Murottal Umma

    Riduan Juara 3 SDI 2021 mengenal Murrotal sejak SD

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Riduan yang merupakan ustadz di Pondok Pesantren Tahfidz Depok sempat minder saat memutuskan mengikuti lomba murottal yang digelar lamaran umat Islam. Berkat dorongan dari teman-temannya, Riduan akhirnya mendapatkan keberanian. Tanpa diduga, dia memenangkan tempat ketiga.

    Riduan mengenal Murottal sejak ia duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Saat itu gurunya melihat ada bakat terpendam dalam diri Riduan. “Alhamdulillah Allah kasih hadiah suara. Mulai kelas empat saya diajari nada-nada, kemudian saya mulai mengikuti lomba-lomba lokal, di Paser, Kalimantan Timur, daerah asal saya,” kata Riduan kepada Republika.co.id, Selasa (11/11). 5).

    Sejak itu, ia mulai melatih dirinya sendiri di bidang murottal. Hingga memasuki sekolah menengah, ia telah membuat tekad yang kuat untuk menjadi seorang qari. Untuk memperdalam kemampuannya, ia harus belajar tafiz di Solo. Setelah lulus, ia menjadi santri dan akhirnya mengajar di Pondok Pesantren Tahfidz Qiblatain, Depok, Jawa Barat.

    Kompetisi murottal di Umma

    Riduan mengaku baru mengetahui soal lamaran Umma belakangan ini. Kebetulan, pondok tempatnya mengajar dan ceramah itu berlangganan koran Republika. Saat itu, ia melihat sebuah iklan lomba murottal yang diadakan oleh Umma.

    “Awalnya saya ragu untuk ikut karena ini kompetisi tingkat nasional, kemungkinan menangnya kecil. Tapi di hari terakhir, saya coba berani mengisi formulir dan mengirimkan video. Saya ambil video dari konten Youtube saya. Saya tidak menyangka, setelah itu saya dapat email dan lolos ke babak selanjutnya, ”terangnya.

    Riduan pernah merasa minder saat mengetahui para pesaingnya sangat berbakat di 15 besar. Namun, teman-temannya selalu mendorongnya untuk pantang menyerah.

    “Saya ingin mundur, saya merasa tidak percaya diri. Apalagi ada persyaratan untuk video perkenalan diri. Tapi tidak berhasil karena saya ingat teman-teman selalu menyemangati saya. Akhirnya saya berani melanjutkan,” ucapnya.

    Tahap selanjutnya, Riduan harus menyerahkan tiga video. Karena disibukkan dengan aktivitas dari pagi hingga sore, dia harus mencatat pada malam hari setelah shalat Isya dan mengaji. Alat dan fasilitas Riduan terbatas. Tapi itu tidak menghentikannya sama sekali.

    Saat merekam video, ia dibantu oleh teman-temannya yang membagi tugas. Misalnya, seseorang mengatur ponsel agar terlihat jelas atau meletakkan Alquran di tempat buku. Sementara itu, ia berperan dalam mengedit video tersebut. Dia juga mengunggah setiap video yang dia kirim untuk kompetisi di akun YouTube-nya.




    Source