Bertemu dengan DPP PDIP, Masyarakat Adat dan Kelompok Pemeluk Agama Ingin Ucapan Selamat ‘Rahayu’

    TRIBUNNEWS.COM, Jakarta – Di tengah pelaksanaan Diklat kader guru di tingkat nasional, DPP PDI Perjuangan (PDIP) mendapat audiensi dari Kelompok Masyarakat Adat dan Beriman pada Tuhan Yang Maha Esa.

    Pertemuan ini merupakan penegasan komitmen bela Indonesia sebagai bangsa yang spiritualis dalam forum Pancasila. Rapat tersebut digelar di kantor pusat partai di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (24/4/2021).

    Sekjen Hasto Kristiyanto dan Wasekjen Arif Wibowo menerima puluhan perwakilan kelompok dari seluruh Indonesia.

    Dalam acara tersebut, Hasto menjelaskan bahwa PDIP berkomitmen untuk terus menjadi rumah nasional bagi Indonesia Raya.

    Ia berbagi pengalamannya sendiri, bagaimana Ketua Umum Megawati Soekarnoputri selalu mengajari kader partai tentang perasaan. Karena Indonesia adalah negeri spiritual.

    Ia banyak bercerita tentang Indonesia sebagai negara spiritual. Misalnya, ketika Hasto mendapat arahan dari Megawati tentang penjabat sekretaris jenderal yang harus berhadapan dengan publik mengenai suatu persoalan, harus diproses agar apa yang dipikirkan dan dirasakan (dirasakan) selalu ada. Itulah inti dari suara hati nurani.

    Hasto juga bercerita tentang bagaimana pada abad ke-7, ada seorang tokoh Buddha bernama Dharmakirti yang hidup pada zaman Sriwijaya, melalui filosofi Dharma-nya, membawa ajaran Yogachara yang ternyata menjadi jembatan antara Tantrayana dan Mahayana.

    “Itulah wujud dasar bangsa Indonesia sebagai negara spiritual. Itulah yang disampaikan Bung Karno bahwa Pancasila diambil dari tanah Indonesia,” kata Hasto.

    “Dengan tradisi agraria yang penuh dengan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta, kita dapat memahami mengapa akulturasi budaya selalu terjadi dalam Budha, Hindu, Islam, Kristen, dll. Karena nusantara yang indah ini sarat akan filosofi ketuhanan, negara kepulauan, negara kepulauan, Nusantara merupakan persimpangan peradaban besar dunia, ”kata Hasto.

    “Apa yang terjadi di Nusantara dengan spiritualitas yang hidup menempatkan pentingnya perpaduan yang menyatu antara pikiran, hati dan rasa. Kita memiliki nilai-nilai dasar tentang bagaimana hidup dan melatih diri melalui merasakan alam,” tambah Hasto.

    Baca juga: Ahmad Basarah: Pancasila adalah Puncak Kebudayaan Indonesia




    Source