BI Dorong Batik sebagai Pengungkit Ekonomi Daerah

    Batik harus bisa mengikuti perkembangan zaman, termasuk dari segi pewarnaan dan coraknya.

    REPUBLIKA.CO.ID, SOLO – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Surakarta mendorong perkembangan batik sebagai pengungkit perekonomian daerah yang saat ini mulai bangkit pasca pandemi Covid-19. Selama sektor ini mode termasuk batik, menempati posisi kedua setelah kuliner dalam kontribusinya bagi perekonomian.

    “Bank Indonesia perhatian warisan budaya khususnya peran batik itu sendiri dalam perekonomian cukup besar termasuk dalam ekonomi kreatif, ”kata Kepala Kantor Perwakilan BI Surakarta, Nugroho, Joko Prastowo saat mengikuti pelatihan produksi batik yang diadakan di Kampung Batik Kauman Solo, Rabu (14/4).

    Mode memang memiliki kontribusi terbesar kedua bagi perekonomian. Sektor kuliner menyumbang 41 persen, fashion 17 persen, dan kerajinan 15 persen.

    Sedangkan jumlah tenaga kerja untuk sektor ini lebih dari 200.000 orang, sehingga diharapkan bisa menjadi pengungkit pemulihan ekonomi. Saat ini produksi lebih fokus pada pemasaran ke depan, termasuk yang kita selenggarakan di KKI (Indonesian Creative). Kerja), “katanya.

    Ia berharap melalui pelatihan ini para pembatik tidak merasa kompetitif tetapi bisa membentuk komunitas untuk saling mendukung. “Jadi kita bukan rival tapi sama-sama berkembang. Kita ingin membentuk komunitas yang saling mendukung, kita mulai dari sini. Apalagi batik memang komoditas yang unik, warisan budaya sehingga tidak boleh punah,” ucapnya.

    Oleh karena itu, perkembangan batik harus diperhatikan, termasuk oleh BI yang memiliki mitra membatik. “Sebagai komoditi, batik ini harus mengikuti perkembangan. Kalau tidak laku tidak bisa laku dan akhirnya mati. Yang pasti batik harus mengikuti perkembangan zaman, termasuk dalam hal pewarnaan, pewarnaan. model yang disukai kaum milenial. mode, “dia berkata.

    Ia mengatakan pada tahap awal pelatihan bertema produksi diharapkan mampu mendorong para pembatik untuk melakukan proses pembatikan dengan cara yang ramah lingkungan. Misalnya seperti apa pengolahan limbahnya jika menggunakan bahan buatan.

    “Sebenarnya menggunakan bahan organik akan lebih bersahabat tapi biasanya lebih mahal,” ucapnya.

    Pelatihan tersebut merupakan bagian besar dari acara Develop and Innovate to Being UMKM (UMKM Kenduren) 2021 yang merupakan kelanjutan dari acara yang sama tahun lalu. Pelatihan diikuti oleh 24 pembatik dari Jawa Tengah dan Yogyakarta.

    Salah satu peserta UKM Giriarum, Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Nyoto Mulyono mengatakan, pelatihan ini penting karena pembatik harus menyesuaikan permintaan pasar. “Kebetulan bahan ini sudah up to date sehingga bisa menyesuaikan dengan batik masa kini, termasuk pewarnaan pada desain batik kontemporer. Padahal bahan ini sangat dibutuhkan, kalau sekarang masih batik standar, tradisional,” ujarnya.

    sumber: Antara




    Source