BNN Sumbawa Rehabilitasi 20 Anak Kecanduan Sabu

Sumbawa Besar, Gaung NTB

Dalam situasi pandemi Covid 19, kasus peredaran dan penyalagunaan narkoba di Indonesia semakin meningkat termasuk dikalangan anak. Dari data Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sumbawa sebanyak 20 anak sedang dalam proses rehabilitasi dari kecanduan narkoba jenis Sabu. Hal ini karena modus peredaran sabu dijual dengan paket hemat dan murah hanya dengan mengumpulkan uang bersama teman-temannya maka anak lebih mudah mendapatkan barang. Jumlah tersebut hanya yang terlapor saja bisa jadi lebih banyak namun belum terlapor, ibarat gunung es siap meledak kapan saja. Demikian disampaikan Kasi Rehabilitasi Ellyah Andriani SKM kepada Gaung NTB senin (31/8).

Disebutkan, anak yang kecanduan narkoba ini faktor penyebabnya utama karena kurang perhatian dari orangtua, apalagi sekarang masanya belajar dari rumah sehingga diharapkan orangtua bisa membatasi pergaulan anak.

Menurutnya, seringkali pasien rehabilitasi berasal dari keluarga broken home atau kedua orangtua sibuk bekerja, kerap kali bertengkar dihadapan anak, jarang dirumah, sehingga anak mencari pelampiasan dengan gunakan narkoba bahkan seringkali juga karena uang jajan yang diberikan orangtua terlampau banyak.

Selain itu, faktor pergaulan juga menjadi pemicu dimana anak bergaul dengan orang yang sudah dewasa, seringkali anak hanya bersifat mencoba-coba saja oleh tekanan teman sebaya lalu memakai sebagai bentuk apresiasi diri agar diakui kelompok komunitasnya, lama-lama kelamaan dirasa enak, si anak merasa lebih percaya diri sebab yang terserang adalah saraf otaknya semakin hari dosisnya pemakain meningkat kemudian jadilah kecanduan.

Ellyah menyampaikan ciri-ciri fisik anak kecanduan narkoba adalah mata merah, tubuh kurus kadang-kadang, gampang curigaan, lebih sensitif, cara bicara pelo atau tidak jelas dan ada pula perubahan sikap lainnya dari rajin menjadi pemalas, dari penurut menjadi pembangkang biasanya juga teman bermainnya akan berganti.

Ia menjelaskan, jumlah keseluruhan pasien rehabilitasi BNN sebanyak 42 pasien, 20 diantaranya anak usia sekolah jika dikluster lagi ada 2 pasien rehabilitasi yang usianya dibawah 15 tahun yaitu masih duduk dibangku sekolah dasar.  

“Rehabilitasi kepada 20 anak ini sudah kami lakukan sejak tahun 2019, dan semuanya sekarang masih dalam tahap pemulihan, karena pandemi kami tidak bisa lakukan kunjungan rumah (home visit) sehingga pemantauannya dilakukan melalui video conference dengan HP dan jika mendesak kami atur pertemuan diklinik dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” jelasnya.

Menurutnya, untuk pasien rehabilitasi rawat inap hanya dilakukan di RSP manambai Abdul Kadir, akan tetapi karena Covid 19 maka tidak ada lagi ada pelayanan rawat inap.

Sementara kerjasama dalam rehabilitasi juga dilakukan dengan RSUD Sumbawa, Klinik Muhammadiyah dan 5 puskesmas yaitu Empang, Alas, Unter Iwes, Labuhan Sumbawa dan Moyo Utara tetapi karena pandemi di puskesmas ini belum berjalan.

Lebih jauh Ellyah mengatakan, pelayanan rehabilitasi di klinik BNN Sumbawa hanya dilakukan rawat jalan dengan memberikan konseling, pemberian obat-obatan, terapi dan lain-lain.

Terkait kemauan untuk melakukan rehabilitasi ia mengungkapkan, ada pasien yang datang sendiri dan ada yang dibawah oleh keluarganya.

Selanjutnya Ellyah menegaskan, bahwa rehabilitasi di BNN masih banyak yang takut karena mengira akan dibawah ke ranah hukum padahal tidak, pasien rehab hanya akan dibantu pemulihannya dan identitas juga dirahasiakan sesuai peraturan perundang-undangan.

Bahkan, ada juga keluarga yang masih tabu menganggap aib jika anaknya menggunakan narkoba, dalih tidak mengakui dan menyangkal jika hasil tes anaknya positif kemudian si anak disembunyikan, oleh sebab itu Ellyah berharap agar keluarga bisa bekerjasama dengan pihak BNN dalam rehabilitasi pasien.Sejauh ini sambungnya, meski tidak ada kerjasama dengan Loka Latihan Kerja (LLK) Sumbawa namun pihaknya sudah beberapa kali mendaftarkan mantan pecandu narkoba agar memiliki keterampilan dibidangnya dan hal itu berhasil membuat mereka pulih dan membuka lapangan kerja sendiri.(Gks)