BNPB Pantau Dampak Gempa Malang

BNPB telah berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk memantau dampak gempa Malang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gempa berkekuatan 6,7 skala richter (M) 6,7 memicu guncangan sedang hingga kuat di beberapa wilayah di Jawa Timur (Jawa Timur) pada Sabtu (10/4) sore. Beberapa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan situasi masyarakat yang merasakan guncangan gempa di wilayahnya.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB Raditya Jati menyampaikan, BPBD di beberapa wilayah administrasi, antara lain Kabupaten Malang, Blitar, Lumajang, dan Malang melaporkan intensitas guncangan gempa yang terjadi pada pukul 14.00 WIB.

BPBD Kabupaten Malang menginformasikan bahwa guncangan sedang sampai kuat selama 5 detik. Penduduk setempat tidak panik. Sedangkan di Kota Malang, BPBD melaporkan adanya getaran selama 12 detik dengan intensitas sedang. Warga Malang panik dan bergegas keluar gedung, kata Raditya dalam keterangan pers, Sabtu (10/4).

Raditya menuturkan, masyarakat Blitar merasakan hal serupa, yakni merasakan getaran kuat selama 30 detik. Mereka bergegas keluar gedung dengan panik. Di Kabupaten Lumajang, warga di sana terasa gemetar selama 20 detik. BPBD memantau masyarakat agar panik dan bergegas keluar rumah.

“Beberapa BPBD di wilayah tersebut masih memantau kondisi di lapangan pasca gempa,” kata Raditya.

Raditya menyampaikan, BNPB telah berkoordinasi dengan beberapa BPBD yang merasakan guncangan gempa. Terkait dampak gempa, BNPB masih berkoordinasi dengan BPBD yang melakukan pemantauan dan kajian lapangan secara cepat.

“BNPB terus melakukan pemantauan pasca gempa dan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan siap mengantisipasi bahaya gempa,” kata Raditya.

Sebelumnya, Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno menginformasikan bahwa lokasi episentrum dan kedalaman hiposentrum, gempa yang terjadi merupakan gempa berukuran sedang akibat aktivitas subduksi.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme gerakan ke atas atau kesalahan dorong,ucapnya melalui siaran pers BMKG, Sabtu (10/4).

sumber: Antara




Source