BPS Masih Kaji Pencatatan Data Jagung Berbasis KSA

    BPS menargetkan data jagung berbasis KSA bisa dirilis pada awal 2022.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan pencatatan data komoditas jagung berdasarkan kerangka sampel wilayah (KSA) masih dalam kajian dan evaluasi. BPS menargetkan data jagung berbasis KSA bisa dirilis pada awal 2022.

    “Mudah-mudahan awal tahun depan atau lebih cepat jika semua kajian tegas,” kata Kadarmanto Republika.co.id, Minggu (26/9).

    Karena data jagung BPS yang saat ini belum meyakinkan, Kadarmanto menegaskan, validitas luas tanam jagung tahunan saat ini tidak terjamin.

    Diketahui, pada 2021 Kementerian Pertanian menargetkan produksi jagung mencapai 22,5 juta ton. Target produksi tersebut mengasumsikan luas tanam jagung mencapai 4,2 juta hektare (ha) dengan luas panen 4,1 juta hektare dan produktivitas rata-rata 5,4 ton per hektare.

    Setelah merilis data luas tanam, luas panen, dan produksi beras berdasarkan metode KSA pada akhir 2019, BPS menyatakan akan memperluas cakupan komoditas selain beras. Diantaranya, jagung, kelapa sawit, hingga gula pasir.

    Khusus untuk jagung, diketahui ada kendala perhitungan teknis yang dihadapi BPS. Teknologi citra satelit yang dimiliki memang sudah mampu menangkap area perkebunan jagung.

    Namun, meskipun jagung merupakan tanaman pangan seperti padi, diperlukan metode yang lebih kaku untuk dapat menghitung produksi karena sifat tanaman jauh berbeda dengan padi.

    Kebijakan satu data saat ini dianggap penting agar kebijakan yang diambil terkait komoditas pangan bisa tepat. Hal ini juga tercermin pada komoditas beras yang saat ini memiliki satu data dari BPS sehingga lebih kondusif.

    Isu data jagung belakangan ini kembali mengemuka akibat tingginya harga jagung pakan yang diterima petani. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menilai mahalnya harga jagung tidak banyak disebabkan karena ketersediaannya yang terbatas.

    Sementara itu, Kementerian Pertanian mengklaim produksi jagung saat ini mencukupi. Namun, kenaikan harga yang terjadi akibat disparitas ketersediaan Jagung antar wilayah menyebabkan kenaikan harga.



    https://www.republika.co.id/berita/r018gw370/bps-masih-kaji-pencatatan-data-jagung-berbasis-ksa