Buka puasa di restoran, Anies: kapasitas 50 persen

Anies mengingatkan momen berbuka puasa sekaligus berpotensi menjadi sarana penularan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengaku tidak mempersoalkan jika orang berbuka puasa di restoran atau restoran. Namun, Anies menegaskan, kegiatan tersebut harus diikuti dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

“Jadi prinsipnya 50 persen dalam beraktifitas apapun. Baik sarapan, makan malam, makan siang disebut buka puasa, disebut buka, disebut sahur,” kata Anies di Masjid Istiqlal, Jumat (9/4).

Oleh karena itu, Anies mengingatkan pengelola restoran dan resto untuk mematuhi tata tertib kesehatan saat menerima pengunjung. Pasalnya, kata dia, selama bulan Ramadhan, jam makan malam dan buka puasa berlangsung hampir bersamaan. Sehingga berpotensi terjadinya penularan virus corona.

“Karena sebenarnya makan malam atau buka puasa sama dengan buka masker, kita berdua harus melakukan aktivitas yang berpotensi penularan,” jelasnya.

“Jadi pengelola restoran, pengelola tempat makan harus disiplin mengatur posisi duduk, harus disiplin kapasitas maksimal,” kata Anies.

Sebelumnya, pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan terkait pelaksanaan Ramadhan dan Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa masyarakat diperbolehkan melaksanakan sholat tarawih sepanjang bulan Ramadhan dan sholat Idul Fitri saat Idul Fitri.

Namun, kebijakan yang juga disetujui oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini bukannya tanpa syarat. Penyelenggaraan ibadah selama Ramadhan dan Idul Fitri harus diiringi dengan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Mengenai kegiatan ibadah saat Ramadhan dan sholat Idul Fitri yaitu sholat tarawih dan sholat Idul Fitri pada dasarnya boleh atau boleh. Yang harus dipatuhi adalah tata tertib kesehatan harus dijalankan dengan sangat ketat, ”ujar Muhadjir saat memberikan keterangan pers usai acara. rapat terbatas di Kantor Presiden, Senin (5/4).

Selain tata tertib kesehatan seperti memakai masker, cuci tangan, dan menjaga jarak antar jamaah, pemerintah juga memperbolehkan kegiatan ibadah berjamaah di luar ruangan atau rumah. Dengan catatan, tambah Muhadjir, jemaah terdiri dari anggota masyarakat yang sudah saling kenal.

Agar jamaah dari luar mohon tidak boleh. Begitu pula dalam melaksanakan shalat berjamaah diupayakan sesederhana mungkin agar waktunya tidak berkepanjangan, tidak terlalu lama, mengingat masih darurat. , “kata Muhadjir.




Source