Bupati Bangkalan Larang Warga Pulang Kampung Saat Idul Adha

Larangan kembali ke desa demi keselamatan warga.

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKALAN — Bupati Bangkalan, Jawa Timur Abdul Latif Amin Imron mengeluarkan surat edaran (SE) yang melarang warga Bangkalan yang tinggal di perantauan untuk kembali ke kampung halaman saat Idul Adha 1442 Hijriyah.

“Kami minta warga Bangkalan yang merantau ke luar Bangkalan tidak boleh kembali, dan ini demi keselamatan kita semua, dan untuk mencegah penyebaran Covid-19,” ujarnya, Kamis (24/6).

SE yang dikeluarkan oleh Bupati Bangkalan berdasarkan SE Menteri Agama Nomor SE. 15 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Protokol Kesehatan Dalam Pelaksanaan Sholat Idul Fitri dan Pelaksanaan Qurban Tahun 1422 H/2021 M.

“Takbiran malam menyambut Idul Adha pada prinsipnya dapat dilakukan di semua masjid atau mushola, dengan ketentuan terbatas, paling banyak 10 persen dari kapasitas masjid/musala, dengan tetap memperhatikan standar protokol kesehatan yang ketat. Seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari keramaian,” kata Abdul.

Selain itu, kegiatan takbir keliling dilarang untuk mengantisipasi keramaian atau keramaian. Kegiatan takbiran dapat disiarkan secara virtual dari masjid dan mushola sesuai dengan ketersediaan perangkat telekomunikasi di masjid dan mushola masing-masing.

Sholat Ied pada 10 Dzulhijah 1442 Hijriyah dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid/mushala. Sedangkan di zona merah dan jingga, shalat batal.

Jika salat Idul Adha dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid, maka setiap jemaah wajib membawa perlengkapan salat masing-masing, seperti sajadah, mukena dan lain-lain. Para khatib wajib memakai masker dan pelindung wajah saat menyampaikan khutbah salat Idul Fitri.

Usai salat, jemaah diminta kembali ke rumah masing-masing dengan tertib dan menghindari berjabat tangan dengan bersentuhan fisik. Untuk pelaksanaan qurban, Abdul meminta panitia memperhatikan penyembelihan hewan qurban.

Penyembelihan dilakukan dalam waktu tiga hari, yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijah untuk menghindari kerumunan warga di lokasi qurban. Hewan kurban disembelih di Rumah Potong Hewan Ruminata (RPH-R).

Jika ada keterbatasan jumlah dan kapasitas RPH-R, maka penyembelihan hewan kurban dapat dilakukan di luar RPH-R dengan protokol kesehatan yang ketat. “Kegiatan penyembelihan, pengulitan, pencacahan daging, dan pembagian daging qurban kepada warga yang berhak menerimanya harus tetap memperhatikan penerapan protokol kesehatan, seperti penggunaan alat tidak boleh bergantian,” ujarnya.

Sedangkan pembagian daging qurban dilakukan langsung oleh panitia kepada warga di tempat tinggalnya masing-masing dengan meminimalisir kontak fisik satu sama lain.

sumber : Antara



https://www.republika.co.id/berita/qv7dfd366/bupati-bangkalan-larang-warga-pulang-kampung-saat-idul-adha