Cara Satgas Sosialisasi dan Komunikasi tentang Larangan Mudik

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah memutuskan untuk melarang mudik Lebaran 2021 atau 1442H. Berbagai metode dan strategi sosialisasi dan komunikasi telah diterapkan untuk membatasi pergerakan umat Islam di Tanah Air selama hari raya Idul Fitri, termasuk melalui media elektronik dan pembentukan satgas (satgas) hingga ke tingkat desa.

    “Strategi komunikasi dengan media lebih terstruktur dan luas. Jadi tidak hanya melalui media elektronik, tapi juga ada satgas daerah di tingkat desa / kecamatan, kabupaten / kota, provinsi bahkan kabupaten,” kata Wiku Adisasmito. , juru bicara Satgas Covid-19 berbicara pada konferensi virtual FMB9 dengan tema ‘Mudik Ditunda, Meredakan Pandemi’, Jumat (9/4).

    Di setiap level satgas juga terdapat satu posko. Unsurnya tidak hanya aparat pemerintah tetapi juga aparat TNI / Polri, Babinsa atau Babinkamtibmas, tetapi juga tokoh masyarakat, tokoh agama, dan relawan lainnya yang terdiri dari anggota masyarakat.

    Setiap minggunya, Satgas Penanganan Covid-19 selalu mengadakan rapat koordinasi dengan seluruh pimpinan daerah dan komponen daerah di seluruh Indonesia. Topik yang dibahas tentunya mengkomunikasikan tentang kebijakan ini berkaitan dengan bulan Ramadhan dan juga Idul Fitri.

    Jadi, kata Wiku, nantinya Satgas akan meminta Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah untuk bisa menyampaikan kebijakannya setelah berkomunikasi dengan pemerintah pusat dengan struktur yang ada di lingkungannya. daerah. Kemudian masing-masing level akan mengkomunikasikan kebijakannya dalam konteks Ramadhan, bagaimana cara sholat selama Ramadhan yang aman dari Covid-19.

    “Kami akan lakukan secara berkala setiap minggu, kemudian menjelang Idul Fitri yang membatasi dan menghilangkan mudik, kami juga melakukannya (berkomunikasi dengan masyarakat),” ujarnya.

    Jadi, lanjut Wiku, jaringan yang luas sudah kita ambil di seluruh Indonesia dan komunikasi persuasif juga sudah dilakukan. Namun, Wiku meminta semua pihak untuk bertanggung jawab. “Jangan dilihat hanya pemerintah, tidak. Ini gabungan seluruh komponen masyarakat dengan pendekatan pentahelix,” ucapnya.

    Ia menegaskan, upaya ini merupakan kesepakatan bersama, bukan hanya satu pihak. Pasalnya, tentunya semua pihak ingin menghadapi masa depan yang lebih cerah dan salah satu tantangannya adalah di hari raya Ramadhan dan Idul Fitri. Jika Idul Fitri ini tidak meningkatkan kasus Covid-19 secara signifikan, maka tentunya masyarakat Indonesia akan lolos.

    “Kita sudah lama sekali kamu tahu, begitu banyak liburan panjang tidak lulus ujian, selalu gagal (kasus terus meningkat). Bisakah kita lulus ujian kali ini? Ini membutuhkan peran kolektif bagi seluruh bangsa karena itu aset yang luar biasa, ”ujarnya.


    Source