China Merilis Radar Deteksi Pesawat Siluman

    Sistem radar baru dapat secara bersamaan mendeteksi dan melacak target termasuk rudal

    REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – China telah meluncurkan radar canggih baru yang dapat mendeteksi pesawat siluman, termasuk drone, serta rudal jelajah terbang rendah. Negara ini terus secara agresif meningkatkan kemampuan tempurnya dan mempersiapkan militernya di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut.

    Laporan publikasi pemerintah Cina Waktu Global, produk bintan di pameran Nanjing yang berakhir Sabtu (24/4), merupakan radar portabel dan multiguna pertama di negara itu. Alat ini bisa dibawa oleh seorang tentara. Peralatan tersebut dijuluki “drone terminator” karena kemampuannya untuk mendeteksi target kecil dan lambat yang bersatu di bawah gelombang kebisingan yang kuat dengan terbang dekat ke tanah.

    Menurut pengembang milik negara, Research Institute No. 14 dari China Electronics Technology Group Corporation (CETC), perangkat yang disebut “radar YLC-48 dapat secara efektif mendeteksi dan melacak target yang masuk dari sudut manapun. Radar menggunakan sirkuit terintegrasi digital dan dapat dipasang pada semua jenis platform senjata ringan.

    Itu juga melakukan misi dalam semua kondisi cuaca dan dapat dengan cepat digunakan dan ditarik. Badan tersebut juga dilaporkan telah mengembangkan Sistem Pertahanan Anti-UAV (AUDS) untuk radar. Upaya ini juga meningkatkan kemampuan pertahanan negara di wilayah sensitif.

    China juga telah meningkatkan penggunaan kendaraan udara tak berawak, serta kemampuan radar anti-drone. Sistem radar anti-drone lain yang pertama kali muncul di publik adalah S-band 3D TWA, radar pengintai ketinggian rendah.

    Berdasarkan Waktu GlobalSistem radar baru secara bersamaan dapat mendeteksi dan melacak target termasuk rudal jelajah terbang rendah, pesawat tempur, dan drone kecil. “Itu akan ditempatkan di lokasi-lokasi penting seperti kota, pembangkit nuklir dan fasilitas militer,” kata pengembang itu seperti dikutip dalam laporan itu.

    Hu Mingchun, direktur Institut Penelitian No. 14, yang mengembangkan radar, mengatakan bahwa sistem baru diperlukan untuk menangani target di ketinggian rendah, kecil, dan lambat. Sistem radar baru yang dikembangkan China ini dinilai lebih unggul dari negara lain.

    Peralatan radar lain yang diperkenalkan di acara itu adalah YLC-8E, yang dapat mendeteksi pesawat siluman paling canggih sekalipun. Ada juga KLJ-7A, radar udara pertama China yang tersedia untuk dijual ke negara lain.

    Ketika pandemi virus korona merajalela di seluruh dunia dalam setahun terakhir, ketegangan juga muncul di kawasan itu karena berbagai masalah. Peristiwa terbesarnya adalah ketika China mengalami bentrokan politik dengan Amerika Serikat (AS).

    Washington dan Beijing tetap berselisih tentang kebijakan China di Hong Kong dan perlakuannya terhadap orang Uighur di wilayah barat laut Xinjiang. China juga prihatin dengan meningkatnya kedekatan antara AS dan Taiwan, yang dianggap sebagai provinsi pemberontak.

    Tahun lalu, China mengancam akan membuat tanggapan yang sah dan perlu setelah AS menyetujui penjualan sistem senjata canggih senilai $ 1,8 miliar ke Taiwan. Beijing juga telah melakukan latihan militer yang melibatkan kapal induknya di perairan dekat Taipei dan mengarahkan pesawatnya ke Taiwan Air Defense Zone (ADIZ) hampir setiap hari.




    Source