Curhat Robert, Satu Minggu Jelang Ajal

Taliwang, Gaung NTB
Tak ada yang mengira Sahrullah alias Robert (35), warga RT 02/01 Lingkungan Bugis Kelurahan Bugis Kecamatan Taliwang, meninggal dengan sangat tragis setelah terjun bebas dari puncak Menara Masjid Agung Darussalam KTC, usai sholat Idul Adha 1437 H, Senin (12/9) lalu, pukul 06.30 Wita.
Meski tak ada isyarat pasti yang ditunjukkan oleh sosok almarhum kepada keluarga, kerabat maupun warga atas kepergiannya yang begitu cepat. Namun hampir semua orang yang dijumpai belakangan selalu disambut dengan penuh hangat, tak ayal kalimat permohonan maaf terus dilontarkan Robert kepada setiap rekan-rekan yang ia kenal dan secara kebetulan dijumpai.
Dari kalimat yang terlontar itu, tentu saja menimbulkan tanda-tanya dari orang-orang yang kebetulan mengenal sosok almarhum, lantaran tak biasanya selalu berucap demikian.
Bahkan satu minggu menjelang ajal, tepat pada Selasa (30/8) Robert curhat kepada Gaung NTB, dengan menyampaikan sekelumit keluh kesahnya, pasca bebas menjalani masa hukuman penjara selama 4 bulan di Lapas Klas II Sumbawa, atas kasus pengrusakan kaca jendela Sekretariat Comrel PT NNT Taliwang.
Ia tengah berupaya mencari lowongan pekerjaan dengan menyusuri instansi – instansi yang kebetulan ia kenal, termasuk menemui Anggota DPRD KSB, dan sejumlah pejabat lingkup Pemda KSB. Kepada Gaung NTB, Robert yang telah di PHK secara sepihak oleh Kantor Comrel PT NNT Taliwang, saat itu mengalami kesusahan ekonomi. “Jangankan Sepeda motor, HP pun saya tak punya saking kesulitan ekonomi,” aku Robert.
Sepintas ketika menyinggung kasus PHK sepihak yang berbuntut pada pengrusakan kantor, Robert kembali bertutur bahwa ia menyesali perbuatannya telah merusak kaca jendela kantor komrel.
Soal pesangon, Robert mengaku pasrah berapa pun diberikan oleh pihak perusahaan ia siap menerima, asalkan ada untuk menyambung hidup untuk biaya istri dan kedua anaknya yang masih kecil.
Keyakinan tersebut menggambarkan, ekspresi kebahagiaan lantaran pejabat dari PT NNT yakni Deden Zaidul Bahri, telah menjanjikan akan memfasilitasi pembayaran pesangon dari tempat ia bekerja. “Alhamdulillah, akan ada titik terang. Saya di janjikan sama Pak Deden Zaidul Bahri, akan membantu membayar hak atau pesangon yang belum dibayarkan pihak perusahaan kepada saya. InsyaAllah besok atau lusa akan dibayar melalui Pak Deden,” aku Robert saat itu kepada Gaung NTB.
Diakui Robert, dimasa kesusahan ekonomi yang dialaminya ia kerap meminta bantuan kepada rekan rekan termasuk pejabat yang kebetulan dikenalnya, dengan memohon pinjaman uang sekedar untuk menopang biaya hidup disaat terus berusaha mencari pekerjaan.
Itupun ia sampaikan tanpa paksaan. “Berapa pun mereka ngasih ya saya terima dan disyukuri, karena masih ada yang ngasih dan peduli akan kesulitan saya,” ucap Robert kala itu. Namun taqdir berkata lain, disaat menanti apa yang dijanjikan, Robert justru memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan.
Atas peristiwa yang menimpa Robert, tidak sedikit warga yang menyampaikan ungkapan keprihatinannya. Pasalnya, semasa hidup Robert dikenal sebagai pekerja keras dan bertanggung jawab, bahkan rela mengabdi di kantor Comrel PT NNT – Taliwang selama 14 tahun.
Keputusan Robert untuk mengakhiri hidupnya tidak lepas dari dampak psikologis pasca pemecatan sepihak oleh Munir – selaku pimpinan Comrel PT NNT – Taliwang, yang berujung proses hukum 4 bulan penjara, akibat memecahkan kaca jendela kantor Comrel Newmont di Taliwang. “Saya kenal baik dengan Robert, tidak mungkin dia senekat itu memecahkan kaca jendela kantor tanpa sebab,” kata warga Kecamatan Taliwang, Lukman Hakim. Terlebih lagi 14 tahun Robert mengabdi di perusahaan tersebut lantas tak diakui, atau pun diberikan pesangon. “Ini sangat tidak masuk akal. Masak sudah ngabdi jadi karyawan dan memberikan banyak kontribusi namun tidak pula dihargai,” cibir Lukman.
Tentu ini patut dijadikan catatan oleh Pemda KSB, untuk melakukan evaluasi terhadap perusahaan swasta yang mempekerjakan karyawannya agar dilakukan evaluasi dan monitoring, agar apa yang menimpa Robert tidak terulang kembali.
Demikian pula terhadap manajemen PT NNT, Lukman, berharap agar keberadaan Munir selaku Comrel PT NNT – Taliwang, dilakukan evaluasi atau dipertimbangkan keberadaannya. “Sekiranya terhadap perusahaan baru PT AMI untuk tidak lagi menggunakan figur Munir, karena tidak layak memegang kendali dalam menejement, contohnya apa yang dialami Robert tidak lepas dari dampak keputusan PHK sepihak yang ia keluarkan,” tandasnya.