Dari Penggelapan Barang Bukti Emas Hingga Kasus Suap Tanjungbalai, MAKI: Nama Besar Komisi Pemberantasan Korupsi Mulai Runtuh

Laporan Jurnalis Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menilai nama besar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai tumbang.

Hal itu akibat sederet kejadian yang menodai KPK.

Koordinator MAKI Boyamin Saiman mengamati penyidik ​​KPK Ajun Komisaris Polisi (AKP) SR menerima suap sebesar Rp. 1,5 miliar kepada Walikota Tanjungbalai, M Syahrial.

Divisi Profesi dan Keamanan Polisi bersama KPK menangkap penyidik ​​Polri dalam penugasannya ke komisi antikorupsi.

Baca juga: Sosok Ihsan Yunus tidak ada dalam dakwaan Juliari Batubara, ini jawaban KPK

“Nama besar KPK mulai runtuh, ganasnya KPK sejak kontroversi pemilihan calon pimpinan KPK dimulai dan revisi kedua UU KPK,” kata Boyamin kepada Tribun Network, Kamis (22/4). ).

Boyamin menjelaskan, ada sederet peristiwa yang mencoreng nama KPK.

Dia mencontohkan, Wali Kota Cimahi yang tidak aktif, Ajay Muhammad Priatna, mengaku dimintai uang Rp1 miliar oleh pihak yang mengaku dari KPK dengan iming-iming tidak tertangkap dalam operasi penangkapan (OTT).

Baca juga: KPK Selidiki Proses Pembebasan Lahan di Internal Sarana Jaya

Hal itu terungkap dalam persidangan kasus suap Rp1,6 miliar terkait proyek pembangunan RS Kasih Bunda bersama terdakwa Ajay, di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (19/4).

“Saya curiga ada orang yang berani menyebut nama KPK, karena disangka orang KPK, orang-orangnya juga main-main. Jadi sebetulnya saya tidak heran kalau di masa sekarang ada yang berani mengambil. yang namanya KPK cari uang, memeras uang, karena menurut mereka KPK bukan sesuatu yang menyeramkan seperti dulu, ”kata Boyamin.

Kemudian, kata Boyamin, sebelumnya juga ada kasus pegawai KPK berinisial IGAS terbukti melakukan pencurian barang bukti dalam kasus korupsi hampir 2 kilogram emas.




Source