Diduga Mengancam Balita, Komnas PA Tolak Kemasan Mengandung BPA

Laporan Jurnalis Tribunnews.com, Eko Sutriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kasus kemasan berisi BPA mendapat perhatian dari Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait.

Arist menilai anak Indonesia membutuhkan perlindungan dari bahan beracun.

“Karakter tegas Komnas Perlindungan Anak menolak BPA karena mengancam balita.

Karena kandungan yang terdapat pada botol dan kemasan plastik, baik air mineral maupun lainnya mengandung bahan beracun, maka AMDK yang masih mengandung BPA harus dilakukan pengujian, ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (13/4/20210).

Arist juga mengatakan jika hasil penelitian menunjukkan bahwa BPA tidak layak digunakan karena berdampak pada kesehatan maka harus dihindari.

Baca juga: Hoax Bahaya Penggunaan Kembali Galon BPA, Politisi PKS Tegaskan Aturan BPOM Digelar

Baca juga: Kenali Bahaya BPA dalam Plastik dan Kaleng untuk Kesehatan

“Demi kesehatan masyarakat, banyak BPA yang banyak dimanfaatkan masyarakat, seperti air galon dan lain-lain, untuk bubur dan sendok anak, apakah masih mengandung BPA atau tidak,” tanya Aries.

Arist juga menegaskan, demi kesehatan anak, BPOM harus bertindak.

“Masukan untuk BPOM tidak hanya menyangkut soal produk tapi pengemasan dan kebersihan kemasan saat distribusi juga harus diperhatikan aspek kebersihan,” ujarnya.

Senada dengan Arist, pemerhati anak Seto Mulyadi pun melontarkan pernyataan tegas. Pasalnya, menurut pria yang akrab disapa Kak Seto ini dampak yang ditimbulkan sangat fatal bagi masa depan anak-anak Indonesia.

“Riset terkait dampak BPA bagi anak ini menjadi peringatan keras bagi Kementerian Kesehatan dan BPOM, karena menyangkut masa depan anak kita, saya dan Lembaga Perlindungan Anak lainnya meminta pemerintah untuk peduli dengan masa depan anak,” ucapnya. Seto Mulyadi, pemerhati anak Indonesia.

Kak Seto juga menegaskan bahwa tidak boleh ada toleransi terhadap BPA dan harus bebas dari BPA. “Anak Indonesia harus dilindungi, tidak ada batasan toleransi untuk BPA,” ujarnya.

Apa yang disampaikan Ketua KPAI Arist Merdeka Sirait dan Kak Seto sejalan dengan apa yang diupayakan Jurnalis Tentang Kesehatan & Lingkungan (JPKL).

“Tidak ada toleransi BPA dalam plastik kemasan No.7, penggunaan kembali galon dan wadah konsumsi makanan dan minuman yang dikonsumsi bayi, balita dan ibu hamil.

BPOM harus menyempurnakan regulasi dengan memberikan label peringatan konsumen, bahwa makanan dan minuman dalam kemasan plastik No. 7 yang mengandung BPA tidak layak dikonsumsi oleh bayi, balita, dan ibu hamil, ”kata Ketua JPKL Roso Daras.




Source