Diplomat Hancurkan Dokumen Sebelum Meninggalkan Afghanistan

    Kondisi Afghanistan dinilai semakin tidak terkendali.

    REPUBLIKA.CO.ID, KABUL — Sejumlah diplomat dan staf kedutaan mulai meninggalkan Kabul, seiring dengan semakin gencarnya serangan Taliban. Para diplomat mengatakan beberapa kedutaan membakar materi sensitif sebelum meninggalkan Afghanistan.

    Kedutaan Besar AS di Kabul mengatakan kepada staf bahwa insinerator dan insinerator mampu menghancurkan berbagai bahan, termasuk kertas dan perangkat elektronik. Menurut pandangan yang diusulkan Reuters, kertas dan perangkat elektronik dihancurkan untuk mengurangi jumlah informasi sensitif pada peralatan.

    Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa Afghanistan semakin tidak terkendali. Dia mendesak semua pihak untuk melakukan upaya untuk melindungi warga sipil.

    “Inilah saatnya untuk menghentikan serangan. Inilah saatnya untuk memulai negosiasi serius. Ini adalah momen untuk menghindari perang saudara yang berkepanjangan, atau isolasi Afghanistan,” kata Guterres, dikutip Sabtu (14/8).

    Banyak orang di ibu kota menimbun beras dan makanan serta obat-obatan lainnya untuk pertolongan pertama. Ledakan pertempuran telah menimbulkan kekhawatiran akan krisis pengungsi dan kemunduran hak asasi manusia, terutama bagi perempuan. Seorang pejabat PBB mengatakan sekitar 400.000 warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka tahun ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 250.000 dari mereka telah melarikan diri sejak Mei atau ketika pasukan asing meninggalkan Afghanistan.

    Pasukan pertama dari batalion Marinir Amerika Serikat tiba di Kabul pada akhir pekan. Mereka berada di Kabul untuk berjaga-jaga ketika AS mempercepat penerbangan evakuasi untuk beberapa diplomat dan ribuan warga Afghanistan.

    Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan garis depan dari tiga batalyon Marinir dan Angkatan Darat yang dikirim AS ke Kabul ditugaskan untuk membantu Amerika dan rekan-rekan Afghanistan mereka keluar dengan cepat. Taliban telah merebut empat ibu kota provinsi lagi hingga Jumat (13/8). Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Taliban dapat menduduki Kabul.

    “Dari tindakan mereka, sepertinya mereka berusaha membuat Kabul tetap terisolasi,” kata Kirby.

    Pentagon juga memindahkan 4.500 hingga 5.000 tentara tambahan ke pangkalan-pangkalan di negara-negara Teluk Qatar dan Kuwait. AS mengerahkan 1.000 tentara ke Qatar untuk mempercepat pemrosesan visa bagi penerjemah Afghanistan yang bekerja dengan pasukan AS, dan keluarga mereka.

    Sementara itu, 3.500 hingga 4.000 tentara dari brigade tempur Divisi Lintas Udara ke-82 ditugaskan ke Kuwait. Kirby mengatakan pasukan tempur akan siaga jika diperlukan.

    Pengerahan pasukan AS menyoroti langkah cepat Taliban dalam menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan. Taliban mulai bergerak melakukan serangan dan mengambil alih sejumlah wilayah, sejak pasukan AS dan NATO meninggalkan Afghanistan.

    Presiden AS Joe Biden tetap bersikukuh untuk mengakhiri misi AS di Afghanistan pada 31 Agustus. Biden mengatakan pasukan AS telah melakukan segala upaya untuk membangun pemerintahan dan militer Afghanistan.

    Departemen Luar Negeri AS mengatakan kedutaan di Kabul akan tetap beroperasi. Keputusan AS untuk mengevakuasi sebagian besar staf kedutaan dan mengirim ribuan tentara tambahan merupakan tanda memudarnya kepercayaan pada kemampuan pemerintah Afghanistan untuk menahan gelombang serangan Taliban. Ada kemungkinan pemerintah Biden akan mengevakuasi staf kedutaan di Kabul secara penuh, seperti dilansir Reuters.



    https://www.republika.co.id/berita/qxu1t6328/diplomat-hancurkan-dokumen-sebelum-tinggalkan-afghanistan