DMI dan Muhammadiyah: Masjid Zona Merah Ditutup untuk Adzan

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto mengatakan, Muhammadiyah setuju dengan usulan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla terkait penutupan masjid di kawasan merah. daerah zona.

“Muhammadiyah setuju dengan usulan Pak JK. Masjid ditutup di zona merah dan jingga, tapi terus mengumandangkan adzan,” katanya Republika.co.id Kamis (1/7).

Namun, Agung menegaskan, bukan berarti menjauhkan umat Islam dari beribadah kepada Allah SWT. “Ibadah itu tetap, meski harus diperbanyak, tapi dilaksanakan di rumah masing-masing,” tegasnya.

Pelaksanaan ibadah di rumah juga termasuk salat Idul Adha. Agung mengatakan tidak perlu menggelar salat Idul Adha di wilayah yang masuk zona merah. “Jika ingin melaksanakan (salat Idul Adha), dipersilakan melakukannya di rumah,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Agung, Muhammadiyah juga menghimbau agar dana qurban dikonversikan untuk secara langsung membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Sebelumnya, Ketua Umum DMI Jusuf Kalla (JK) mendukung langkah pemerintah menutup sementara rumah ibadah, dalam rangka Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM), 3-20 Juli 2021. Namun, Adzan tetap harus dikumandangkan. selama penutupan.

Menurut JK, muazin tetap menggelar adzan sesuai waktu sholat. Demikian juga marbot masjid tetap pergi ke masjid seperti biasa. Keputusan pemerintah, menurut JK, merupakan langkah tepat untuk melindungi masyarakat dari paparan virus Covid-19.

Sehari sebelumnya, Rabu (29/6), Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat secara resmi mengumumkan Kota Depok resmi menjadi zona merah Covid-19. Status zona merah Covid-19 ditentukan melalui 14 indikator. Skor Kota Depok dalam penilaian zonasi juga turun dari 1,93 menjadi 1,8.

Berdasarkan kondisi tersebut, Gugus Tugas Covid 19 Kota Depok telah menerapkan kebijakan pengetatan penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagaimana tertuang dalam Keputusan Walikota Depok Nomor 443/263/Kpts/Dinkes/Huk/2021, yang berlaku sampai dengan 5 Juli 2021.

Terkait hal tersebut dan sesuai arahan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, bagi umat Islam yang berada di Zona Merah Covid-19 agar dapat mengganti shalat Jumat dengan shalat Dzuhur di rumah.

“Kami mengimbau umat Islam untuk dapat mengikuti arahan atau Fatwa MUI tersebut. Begitu juga bagi umat beragama lainnya, disarankan untuk menghindari pelaksanaan ibadah yang dilakukan secara bersama-sama,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana di sebuah pernyataan. siaran pers diterima Republika, Rabu (30/6)

Mengacu pada keputusan tersebut, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Balai Kota Depok juga melakukan langkah-langkah sebagai berikut:ockdown atau tidak mengadakan salat berjamaah dan salat Jumat.

“Keputusan tersebut tertuang dalam pengumuman DKM di Masjid Agung Balai Kota Depok, dalam rangka merespon peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Depok,” jelas Ketua DKM Masjid Agung Balai Kota Depok, Sri Utomo.

Keputusan itu mulai berlaku pada Rabu 30 Juni. “Makanya saya menghimbau kepada jemaah agar bisa menunaikan shalat lima waktu secara mandiri. Kemudian shalat Dzuhur sebagai pengganti shalat Jumat.

“Kami juga menghimbau untuk bersama-sama memperbanyak tilawah, dzikir dan doa memohon kepada Allah SWT agar segera mengangkat pandemi Covid-19 ini,” harap Sri.

Ia menambahkan, pembukaan kembali salat berjamaah lima waktu dan salat Jumat di Masjid Agung Balai Kota Depok akan dilakukan setelah status Covid-19 di Kota Depok berpindah dari zona merah ke zona lebih baik. “Jadi, kami mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah,” katanya.



https://www.ihram.co.id/berita/qvkfuz385/dmi-dan-muhammadiyah-masjid-zona-merah-ditutup-tetap-adzan