Doktrin Radikal untuk Wanita Diduga dalam Waktu Singkat

Perempuan pelaku aksi teror diduga memiliki pemahaman tentang ekstremisme.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan Kerentanan Kementerian PPPA Valentina Gintings menduga perempuan pelaku aksi teror diduga memiliki pemahaman tentang ekstremisme dalam pola pikirnya. Kemudian, mereka diindoktrinasi dengan radikalisme dalam waktu singkat oleh perekrut teror sehingga para perempuan ini akhirnya bersedia menjadi teroris.

“Jadi mereka sudah memiliki pemahaman yang ekstrim (mindset, red.) Sehingga dalam waktu dua jam memang bisa terpengaruh. Karena pemaparan korban yang akan direkrut, cara berpikirnya radikal, baru dikasih (doktrin, red). .) Sedikit (dalam waktu) singkat, red.) Saja akan cepat masuk pemahaman tentang terorisme, ”ujarnya dalam seminar online bertajuk“ Perlindungan Perempuan dari Terorisme dan Ekstremisme ”yang dipantau di Jakarta, Rabu (7/7). 4).

Kementerian PPPA bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) akan memetakan wilayah-wilayah di negara rawan perempuan untuk direkrut menjadi teroris. Langkah ini merupakan bagian dari rencana Kemen PPPA untuk mencegah perempuan menjadi teroris.

Nantinya, perempuan penghuni di wilayah rawan tersebut akan diberikan pelatihan dan arahan agar tidak terpapar ideologi radikal. Dalam hal ini, Kementerian PPPA akan melakukan pendekatan melalui kelompok kerja (pokja) yang telah dibentuk di tingkat desa, kecamatan, dan provinsi, yaitu melalui Kelompok Kerja Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).

“Kita sudah memiliki kelompok masyarakat dari tingkat paling bawah, seperti PATBM, Puspaga. Nanti akan kita cetak menjadi perempuan pionir perdamaian sehingga menjadi garda terdepan kita untuk memastikan pencegahan di tingkat masyarakat,” ujarnya.

Dalam dua peristiwa teror yang terjadi dalam dua pekan terakhir ini, tercatat perempuan terlibat sebagai teroris. Peledakan bom bunuh diri dilakukan oleh dua terduga teroris di Katedral Hati Kudus Yesus di Jalan Kajaolalido, Kelurahan Baru, Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3) pagi.

Pelakunya adalah pasangan suami istri yang baru menikah sekitar enam bulan lalu, meledakkan bom yang mereka bawa hingga tewas di tempat kejadian. Pelaku laki-laki berinisial L dan perempuan YSF atau D.

Keduanya merupakan anggota kelompok belajar di Vila Mutiara Makassar, tergabung dalam kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah yang berafiliasi dengan ISIS. Tiga hari kemudian, yakni Rabu (31/3), Mabes Polri dikejutkan dengan penyusupan terduga teroris wanita berinisial ZA ke dalam Kompleks Mabes Polri.

Tersangka teroris menodongkan senjata api ke petugas yang bertugas di sekitar pintu gerbang Mabes Polri. Tak menunggu lama, ZA langsung dilumpuhkan oleh timbal panas oleh petugas, karena dinilai mengancam keselamatan.

sumber: Antara




Source