Dua Dzulhijah, Pembebasan Nabi Yunus dari Perut Ikan

Nabi Yunus keluar dari perut ikan pada dua Dzulhijah.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Nabi Yunus AS akhirnya dikeluarkan (diampuni dosanya) oleh Allah SWT dari perut ikan setelah berulang kali bertobat dan mengaku telah meninggalkan komunitas Ninewa-nya. Pengampunan ini terjadi pada dua Dzulhijah.

“Setiap hari dia berdoa agar tepat di hari kedua Dzulhijah, Allah mengabulkan doa Nabi Yunus,” tulis Ustadz Ahmad Rifa’i Rf’an dalam bukunya. “Bahkan Pengorbanan Tuhan” .

Doa Nabi Yunus di dalam perut Alquran diabadikan dalam surat Al Anbiya ayat 87 yang artinya. “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau suci, aku termasuk orang yang menganiaya diriku sendiri.”

Setelah dikeluarkan dari perut ikan, Nabi Yunus kembali ke kaumnya. Betapa kagetnya Nabi Yunus melihat penduduk Ninewa yang semula kafir, kini beriman, sehingga setiap ajakan dakwah Nabi Yunus diterima secara terbuka.

Ustadz Ahmad mengatakan bahwa kisah Nabi Yunus tidak banyak diceritakan oleh Al-Qur’an seperti kisah Musa, Yusuf, Ibrahim dan lainnya. Nabi Yunus diutus oleh Allah SWT ke sebuah kota di pantai barat bagian utara benua Afrika.

“Sebagai Nabi Yunus, beliau tidak pernah bosan menyampaikan risalah kepada umatnya,” ujarnya.

Namun, fakta berbicara lain. Sejarah mencatat bahwa setelah 33 tahun berkhotbah di antara orang Niniwe, hanya dua orang yang tercatat sebagai orang percaya. Padahal penduduk kota K saat itu tidak kurang dari 200 ribu jiwa.

“Nabi Yunus tentu kecewa,” katanya.

Ketika kekecewaan sudah memuncak, dia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Ninewa. Nabi Yunus putus asa. Ia mengembara hingga akhirnya tiba di sebuah pantai.

Ia melihat perahu layar melintas, Nabi Yunus meminta izin untuk naik, pemilik perahu yang ramah memanggilnya Denyum dan mempersilahkan Nabi Yunus naik perahunya bersama barang bawaannya dan penumpang lainnya.

Di tengah perjalanan tiba-tiba angin topan berhembus kencang. Perahu menjadi sulit dikendalikan, bebannya terlalu berat. Jadi kapten setuju untuk mengurangi beban kapal.

Yang pertama adalah dengan membuang barang bawaan, tapi itu tidak berubah ketika akhirnya demi keselamatan lebih banyak orang, mereka sepakat untuk mengurangi jumlah penumpang. Lalu siapa yang dengan sukarela menceburkan diri ke laut?

Demi keadilan, mereka memutuskan untuk mengundi untuk memutuskan siapa yang harus dibuang ke tengah laut, takdir memutuskan bahwa Yunus harus dibuang. Di kegelapan malam, di tengah badai dan ombak besar, Nabi Yunus ditelan ikan yang sangat besar.

Namun, sepertinya Allah SWT masih rela menyelamatkan jiwanya. Tidak ada kemustahilan bagi Allah, agar Nabi Yunus tetap bisa bernafas meski dalam rongga perut ikan.

“Saat itulah Nabi Yunus menyadari bahwa Allah tidak suka hambanya berputus asa,” ujarnya.

Dekade berkhotbah tetapi hanya dua pengikut adalah kesulitan, tetapi kesulitan bagi para pejuang bukanlah hukuman; kesulitan bagi pahlawan adalah ujian.

Dalam surat Al Anbiya ayat 87 Allah SWT berfirman:

“Dan ingatlah kisah (Dzun Nun) Yunus ketika dia pergi dalam keadaan marah, dia mengira bahwa Kami tidak akan mempersulitnya, maka dia memerintahkannya dalam keadaan yang sangat gelap.”



https://www.republika.co.id/berita/qw65v1430/dua-dzulhijah-pembebasan-nabi-yunus-dari-perut-ikan