Dugaan Pemerasan Rp 250 Ribu Kepada Yatim, Kepala Desa : Guyon

    Kepala desa menerima Rp. 20.000 uang yang ditawarkan oleh korban pemerasan.

    REPUBLIKA.CO.ID, CILEDUG — Netizen dihebohkan dengan beredarnya video kepala desa melakukan pungutan liar (pungutan liar) kepada anak yatim di Ciledug, Tangerang. Video yang berisi percakapan seorang pria yang diduga paman yatim piatu dengan lurah tentang pungli itu beredar luas dan menjadi viral, namun saat dikonfirmasi, lurah tersebut menyatakan bahwa pungutan tersebut hanya iseng belaka.

    Orang tersebut adalah Kepala Desa Paninggilangan Utara bernama Tamrin (50 tahun). Saat diklarifikasi, Tamrin membantah adanya pemerasan sebesar Rp 250 ribu untuk anak yatim. Dia mengakui bahwa apa yang dia katakan adalah lelucon.

    “Itu hanya bercanda. Sebenarnya tidak ada pembayaran,” kata Tamrin dalam video klarifikasi yang diunggah ke akun Instagram @info_ciledug.

    Tamrin mengaku tidak mengetahui identitas pria tersebut. Ia juga mengaku, sebelum pembayaran dilakukan, ia telah menandatangani surat ahli waris yang dibawa anak yatim piatu itu ke kantor desa.

    “Sudah saya tanda tangani. Surat apa itu, tinggal saya tanda tangani. Yang menawarkan pembayaran itu dari dia,” katanya.

    Praktik pungutan liar itu terungkap setelah video yang berisi percakapan kepala desa dengan seorang pria yang disebut sebagai paman korban yatim piatu. Video berdurasi 1 menit 53 detik tersebut diunggah ke akun Instagram @info_ciledug dan menjadi viral di media sosial.

    Dalam video tersebut, terlihat seorang pria diam-diam merekam praktik pungli di kantor Kecamatan Paninggilan Utara, Kecamatan Ciledug, Tangerang. Pria itu meminta tanda tangan lurah untuk surat ahli waris keponakannya. Namun, aparatur sipil negara (ASN) mengatakan ada biaya untuk layanan ini.

    “Laporkan pak, Baik sebelumnya membutuhkan tanda tangan untuk sertifikat warisan, orang tuanya meninggal kemarin. Ada biayanya pak?” tanya perekam video.

    “Ada itu mah, jawab orang tersebut.

    Pria tersebut kemudian menanyakan kegunaan pembayaran tersebut namun orang tersebut tidak menjawab. Dia hanya mengatakan bahwa ada sedikit biaya sebesar Rp. 250 ribu. Tak puas dengan jawaban orang tersebut, pria tersebut kembali mengkonfirmasi nominal pembayaran Rp 250 ribu untuk keperluan apa.

    Ia juga menjelaskan bahwa kondisi keuangan keluarga yang buruk dan meminta kelurahan untuk tidak menetapkan nominal iuran. Akhirnya mereka sepakat untuk membayar Rp. 20 ribu untuk layanan.

    “Ya sudah Rp 20 ribu? Maaf pak, ini anak yatim piatu, masih sekolah,” kata pria itu.



    https://www.republika.co.id/berita/qxk9m9282/diduga-pungli-rp-250-ribu-ke-anak-yatim-lurah-guyon