Duo Suap Juliari Dihukum 4 Tahun Penjara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa Ardian Iskandar Maddanatja dan Harry Van Sidabukke empat tahun penjara, keduanya dinyatakan bersalah menyuap mantan menteri sosial Juliari Peter Batubara sebesar Rp 1,95 miliar dan Rp 1,28 miliar terkait pengadaan barang dan layanan bantuan sosial Covid-19 di Kementerian Sosial (Kemensos).

Suap keduanya diberikan melalui Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementerian Sosial untuk proyek tersebut. “Terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara berkelanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat 1 huruf b UU Pemberantasan Korupsi junto Pasal 64 ayat 1 KUHP,” kata Tindak Pidana Korupsi. Jaksa Komisi Pemberantasan Muhammad Nur Azis saat membacakan surat dakwaan, Senin. (19/4).

Selain pidana penjara, jaksa juga mendakwa keduanya dengan denda Rp. 100 juta, subsider empat bulan penjara. Dalam menyusun gugatan, jaksa menilai beberapa hal yang meringankan dan memberatkan. Untuk hal yang memberatkan, tindakan Ardian dan Harry dilakukan di tengah bencana nasional atau Covid-19. Untuk menguranginya, terdakwa berterus terang dan mengakui perbuatannya, kata jaksa.

Suap yang diberikan Ardian terkait dengan penunjukan PT Tigapilar Agro Utama sebagai penyedia bansos Covid-19 tahap 9, 10, tahap komunitas dan tahap 12 sebanyak 115.000 paket. PT Tigapilar Agro Utama adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan komoditas, pengangkutan dan pupuk.

Pada Agustus 2020, Ardian yang merupakan Direktur Utama PT Tigapilar dan istrinya Indah Budhi Safitri bertemu dengan Helmi Rivai dan Nuzulia Hamzah Nasution. Nuzulia diketahui merupakan keponakan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Pepen Nazaruddin. Nuzulia bilang ada biaya yang harus diberikan Ardian jika PT Tigapilar ingin ditunjuk sebagai pemberi bansos. Ardian setuju.

Pada 14 September 2020, PT Tigapilar dinyatakan sebagai penyedia jasa makanan tahap 9 dan mendapatkan 20 ribu paket sembako. Nuzulia lalu bertanya biaya Rp 30 ribu per paket karena Nuzulia akan berkoordinasi dengan Kementerian Sosial.

Uang biaya diberikan melalui dua anak buah Juliari, yaitu Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono. Biaya diberikan secara bertahap yaitu Rp 800 juta pada tanggal 15 Oktober 2020 dan akhir Oktober 2020 Rp350 juta. Kemudian pada November 2020 menjadi Rp 800 juta.

Sementara itu, Harry menyuap Juliari Rp 1,28 miliar terkait penunjukan PT Pertani dan PT Mandala Hamonangan Sude sebagai pemberi bansos Covid-19 tahap 1, 3, 5, 6, 7, 8, 9 dan 10, sebanyak 1.519.256 paket. .

Suap juga diberikan melalui Matheus Joko dan Adi Wahyono. Suap diberikan secara bertahap sesuai paket yang diterima PT Pertani mulai 1 Mei 2020 hingga Oktober 2020.

Jaksa juga menolak permintaan Harry untuk diidentifikasi sebagai pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum atau kolaborator keadilan. “Jaksa Penuntut Umum menyimpulkan bahwa status ‘Justice Collaborator’ tidak dapat diberikan dalam perkara a quo karena terdakwa belum memberikan informasi yang sangat signifikan mengenai tindakan atau peran orang lain,” kata Jaksa Penuntut Umum Ikhsan Fernandi. Terkait tuntutan tersebut, Ardian dan Harry akan mengajukan plea note atau plea pada Senin, 26 April 2021.


Source