Erick Thohir: Hanya 40 persen BUMN yang siap bersaing

Erick Thohir mengatakan 60 persen BUMN masih bergantung pada penugasan pemerintah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan keseriusannya mengubah paradigma BUMN melalui sejumlah program transformasi. Erick mengatakan BUMN memiliki potensi yang sangat besar namun belum dioptimalkan.

“Jika orang melihatnya dari luar Baik BUMN itu besar banget, setelah saya masuk ternyata lebih besar lagi. Kita harus mengefisienkan jumlah BUMN, bagaimanapun hanya 10 sampai 12 perusahaan yang memberikan dividen kepada negara,” kata Erick dalam akunnya Instagramdia, @erickthohir pada Jumat (25/6).

Sejak awal, Erick menantang Kementerian BUMN dan BUMN untuk bertransformasi. Erick menilai transformasi tidak cukup pada struktur korporasi, tetapi juga pada aspek individu BUMN.

Erick mengatakan, transformasi melalui perubahan model bisnis akan menentukan masa depan BUMN. Sejauh ini, kata Erick, baru sekitar 40 persen yang siap bersaing secara terbuka dengan perusahaan asing dan swasta. Sementara 60 persen masih bergantung pada tugas atau berada dalam situasi zona nyaman.

“Tidak mungkin transformasi terjadi tanpa modal manusia . Saya ganti Kementerian (BUMN), pemimpin seperti korporasi, jangan memperpanjang birokrasi, tapi transformasi harus kita lakukan bersama-sama,” kata Erick.

Erick mengatakan pentingnya sinergi antara direksi dan komisaris. Erick mengatakan direksi memiliki kendali langsung atas operasional harian perusahaan. Sedangkan komisaris bertugas melakukan pengawasan untuk memastikan apakah target indikator kinerja utama telah dilaksanakan dengan baik.

“Kerja sama tim adalah kuncinya. Kami juga tidak mau ketika negara membutuhkan kami, kami hanya bagian yang bisa mengkritik atau menonton dari luar,” lanjut Erick.

Erick mengajak seluruh direksi dan komisaris BUMN untuk mengikuti program Lembaga Pembelajaran dan Manajemen BUMN (BLMI) dalam upaya percepatan transformasi BUMN. Erick menilai program ini sangat positif dalam mempercepat transformasi melalui sejumlah agenda terkini, seperti perubahan model bisnis pasca pandemi COVID-19.

“Program ini sangat positif, ini bagian dari perubahan budaya, kalau individu direksi dan komisaris tidak percaya dengan transformasi ini kan? tidak jangan pergi,” kata Erick.

“(Berpikir) ini adalah perusahaan milik negara lol harus diselamatkan, nanti kalau ada apa-apa kerugiannya diberikan kepada negara, kalau ada apa-apa akan disematkan,” lanjut Erick.

Erick tidak ingin pola pikir BUMN seperti itu. Bagi Erick, BUMN harus memposisikan diri sebagai perusahaan yang kompetitif dan memberikan deviden yang maksimal kepada negara. Apalagi saat ini, kata Erick, negara membutuhkan pemasukan baru selain pajak untuk membangun program rakyat.

“Kalau BUMN ini kolaps, tidak akan ada tulang punggung lagi karena kita adalah salah satu tulang punggung. Saya sangat serius mengawal BUMN terhadap perubahan human capital dan model bisnis, saya pastikan untuk memperhatikan detailnya,” kata Erick.



https://www.republika.co.id/berita/qv99b0368/erick-thohir-baru-40-persen-bumn-siap-berkompetisi