Firli Bahuri Sebut Penyidik ​​KPK yang Menerima Uang dengan Nilai Di Atas Rata-Rata

Laporan Jurnalis Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja menetapkan penyidik ​​polisi Stepanus Robin Pattuju sebagai tersangka penerima suap Wali Kota Tanjungbalai M. Syahrial.

Ketua KPK Firli Bahuri mengungkapkan, hasil tes rekrutmen penyidik ​​yang mulai bertugas di KPK sejak 1 April 2019, memiliki nilai di atas rata-rata.

“Hasil pengujian menunjukkan potensi di atas rata-rata di atas 100% yaitu 111,41%. Hasil uji kompetensi di atas 91,89%,” kata Firli di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (22/4 /). 2021).

Baca juga: Proses Etik KPK terhadap Penyidik ​​dari Polri yang Menerima Uang dari Walikota Tanjungbalai

“Yang bersangkutan sudah tidak diragukan lagi, artinya sistem rekrutmennya sangat baik, kenapa saya katakan sesuai penjelasan biro SDM SRP bergabung dengan KPK pada 1 April 2019,” imbuhnya.

Atas penilaian ini, Firli menilai proses rekrutmen dari Stepanus tidak menjadi masalah.

Namun, menurutnya ada faktor lain yang membuat Stepanus menerima suap dari M. Syahrial.

“Artinya perekrutan mekanis itu tidak masalah, tapi kenapa bisa terjadi? Saya pernah bilang ke rekan-rekan saya bahwa korupsi terjadi karena integritas yang rendah dan integritas yang berkurang. Itu yang harus kita lindungi bagaimana kita harus membuat integritas di hati kita,” dia berkata.

Baca juga: Ketua KPK Minta Maaf Penyidik ​​Menerima Suap Wali Kota Tanjungbalai

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Stepanus, Syahrial, dan pengacara Maskur Husain sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap terkait penanganan kasus Wali Kota Tanjungbalai tahun 2020-2021.

Suap tersebut diduga diberikan agar Stepanus bisa membantu agar penyidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjungbalai yang menjerat Syahrial tidak dibawa ke tahap penyidikan oleh KPK.




Source