Gunungkidul Memiliki Taman Keanekaragaman Hayati seluas 10 Hektar

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkenal dengan kawasan karstnya, kini memiliki Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) seluas 10 hektar yang disebut Eroniti. Direktur Pengelolaan Ekosistem Esensial Kementerian Lingkungan Hidup Asep Sugiharta mengatakan taman keanekaragaman hayati ini merupakan alternatif yang efektif untuk memulihkan ekosistem.

Menurutnya, taman ini berfungsi untuk meningkatkan keanekaragaman hayati lokal dan mendukung konservasi flora dan fauna di luar kawasan hutan. “Khususnya di Gunung Sewu Kabupaten Gunungkidul yang bercirikan Karst, Taman Kehati ini akan memiliki keunikan tersendiri dalam penanganannya,” ujar Asep saat meresmikan taman yang dipelopori oleh Institut Pertanian (Instiper) Stiper Yogyakarta dan PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Danone Indonesia), Senin (31/5).

Asep mengatakan, taman yang berada di kawasan karst seluas 10 hektare dan terletak di Desa Karangasem, Kecamatan Ponjong itu, merupakan upaya penyelamatan berbagai spesies asli kawasan yang terancam kelestariannya.

Dekan Fakultas Kehutanan Instiper Yogyakarta, Sugeng Wahyudiono mengatakan, nama Eroniti diambil dari salah satu dari 10 nama gunung yang mengelilingi kawasan Gunungkidul. Gunung Eroniti artinya melihat perjuangan. Eroniti berasal dari bahasa jawa yaitu iron artinya perjuangan dan niti artinya melihat.

Sugeng mengatakan, di kawasan yang dirintis bersama PT Sarihusada Generasi Mahardhika, dari pendataan, setidaknya ditemukan 23 jenis flora. “Spesies yang ada memiliki fase lengkap mulai dari pembibitan, penyapihan, tiang dan pohon,” katanya.

Selain itu, terdapat pula dua jenis burung langka yaitu Walet Linchi dan Cuckoo Jawa yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang pelestarian tumbuhan dan hewan. “Taman Konservasi Eroniti dibangun dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat,” kata Sugeng.

Selain sebagai tempat penelitian dan edukasi tentang keanekaragaman hayati, di Taman Konservasi Gunungkidull, menurut dia, masyarakat juga diberi kesempatan untuk ikut mengembangkannya. “Misalnya membangun objek wisata berupa goa atau wisata berbasis ekowisata,” ujarnya.

Taman Konservasi Eroniti terletak di kawasan karst seluas 10 hektar. Ekosistem karst merupakan tangki besar untuk menyimpan air tawar dan berbagai biota gua yang dapat berfungsi sebagai sistem pendukung untuk menyediakan cadangan makanan.

Apalagi jika ekosistem karst dilestarikan akan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa dengan pendekatan ekowisata. Sehingga pendapatan warga bisa meningkat dan alam tetap terjaga.

Head of Climate and Water Stewardship Danone Indonesia, Ratih Anggraeni mengatakan, sejak 2018, bersama Instiper, mereka telah memulai studi analisis dan perhitungan indeks keanekaragaman hayati di wilayah tersebut. Ternyata ditemukan indeks keanekaragaman sebesar 1,15 yang termasuk dalam kategori rendah di wilayah tersebut.

“Data dasar ini menjadi acuan kami untuk secara khusus mendorong potensi flora dan fauna endemik Gunung Kidul untuk dilestarikan di sini,” ujarnya.

Kemudian pada tahun 2021 bila ditelaah kembali, indeks keanekaragamannya meningkat menjadi 1,5. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada peluang besar untuk pengembangan keanekaragaman hayati di ekosistem ini.

https://repjogja.republika.co.id/berita/qu06z6291/gunungkidul-miliki-taman-keanekaragaman-hayati-10-hektare