Guru PAUD Hadapi Tantangan Selama BDR

Sumbawa Besar, Gaung NTB  – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktur Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini meminta selama pandemi Covid-19, guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak memberikan tugas macam-macam kepada muridnya. Anak-anak PAUD diberikan kemerdekaan untuk bermain sepuas-puasnya di rumah. Dalam pelaksanaannya, belajar sambil bermain di rumah, bagi anak PAUD tidak semudah yang dibayangkan, kurangnya semangat anak dan kurangnya kemampuan orang tua dalam mendampingi anak menjadi tantangan dalam penerapan.

Tidak bisa dipungkiri, salah satu sifat anak-anak adalah mereka sangat mudah untuk berubah pikiran dan berubah suasana hatinya (moody). Hal tersebut dikarenakan anak usia dini belum bisa mengontrol diri dengan baik. Kebanyakan dari mereka belum bisa berkomunikasi dengan lancar dan menyampaikan apa yang dirasakan. Hal ini masih ditambah faktor atmosfir belajar anak yang tiba tiba berubah, dari yang biasanya dilakukan bersama teman dengan penuh warna dan kreativitas, sekarang harus dilakukan sendiri dan kurang menarik.

Siswa PAUD di kabupaten Sumbawa sudah melaksanakan belajar dari rumah (BDR) secara luring maupun daring selama hampir 4 bulan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.

Berikut ini beberapa tantangan pembelajaran yang dirasakan para guru PAUD. Menurut salah satu guru PAUD Kasih Ibu di Desa Gontar kecamatan Alas Barat, Bahiya kepada Gaung NTB selasa (28/7) menyampaikan selama BDR, dirinya lebih banyak memberikan tugas dengan materi pembelajaran yang sifatnya pembiasaan.

Disebutkan, materi-materi pembiasaan yang ditugaskan selama pembelajaran di rumah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang selama ini diterapkan di sekolah. Ada beberapa tema dalam materi yang diberikan yaitu PHBS (Praktik Hidup Bersih dan Sehat), pendidikan karakter, numerasi, literasi dan keagamaan.

Selanjutnya dicontohkan, materi PHBS kata Bahiya misalnya praktek cuci tangan, mandi, gosok gigi, membersihkan perlengkapan makan sendiri. Materi pendidikan karakter misalnya membantu orang tua, berbicara sopan, mengucapkan terima kasih, minta tolong. Sedangkan materi keagamaan contohnya wudhu, sholat, membaca iqro, hafalan surat pendek, berdoa sebelum beraktivitas, dan sebagainya. Materi-materi tersebut sesuai dengan kurikulum yang saat ini digunakan, yaitu kurikulum 2013.

Tugas-tugas pembiasaan tersebut diberikan setiap hari melalui WA group dalam bentuk teks instruksi, audio instruksi dan juga video contoh. Selanjutnya, orang tua akan mendampingi serta mendokumentasikan kegiatan tersebut dalam bentuk video atau foto dan kemudian dikirimkan ke guru sebagai bahan pemantauan dan penilaian.

Selain memberikan tugas sambung Bahiya, dirinya juga mendatangi rumah siswa satu persatu (home visit) untuk menyampaikan materi pembelajaran secara berkala setiap minggunya sekaligus mengevaluasi hasil pembelajaran yang sudah dipahami oleh anak tersebut.

“Saat ini siswa kami mulai bosan, setiap kali kami datang mengajar, mereka selalu bertanya, Ibu guru kapan kita mulai masuk sekolah lagi, kami rindu ingin kembali belajar di sekolah, tetapi kami terus memberikan motivasi agar siswa tetap semangat belajar di rumah sekaligus memberikan rasa optimis dan semangat kepada orangtua siswa dalam mendampingi anaknya selama belajar dari rumah meskipun orangtua masih merasa kesulitan dalam mendampingi anak,” katanya.  

Hal senada disampaikan Gusmianti SPd guru Paud Al-Hidayah Desa Lekong kepada Gaung NTB selasa (28/7), menurutnya selama belajar dari rumah di sekolahnya melaksanakan pembelajaran luring, karena kondisi orangtua siswa yang tidak memungkinkan untuk daring.

Gusmiati terlebih dahulu melakukan identifikasi, membagi siswa yang berdekatan rumah ke dalam beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari 7 orang. Selanjutnya, ia akan memberikan materi pembelajaran kepada anak tersebut per kelompok.

Tantangan yang dirasakan sambungnya, keterbatasan waktu karena harus mengisi materi pembelajaran dibeberapa kelompok siswa dengan keterbatasan sumber daya yang ada.

Bagi Gusmiati, memang ada banyak tantangan yang dirasakannya selama belajar dari rumah. Satu yang pasti adalah proses belajar anak-anak menjadi tidak maksimal baik  itu dari segi kuantitas maupun kualitas. Ketika belajar di rumah, perhatian anak-anak mudah teralihkan oleh begitu banyak hal.

Selain itu, tantangan ketika belajar kelompok yaitu kurangnya konsentrasi anak. Dijelaskan, karena pada saat proses pembelajaran misalnya di rumah si A, maka para orang tua akan tetap menunggu disitu melihat anaknya belajar sampai selesai sehingga kurang optimal kadang orangtua juga sibuk mengobrol dengan sesamanya dan mengganggu konsentrasi anak.

“Sulit dia fokus karena dikerumunin sama ibunya dan adik-adiknya. Jadi, ketika kita menjelaskan sesuatu pada si anak, ada aja yang nyeletuk dari belakang,” cerita Gusmiati.

Baik Bahiya maupun Gusmiati sama-sama berharap, anak-anak bisa kembali belajar di sekolah diera normal baru yang direncanakan pemerintah pada bulan agustus 2020. (Gks)