Guru SDIT Insan Qur’ani Berjuang Menjaga Hapalan Siswa Saat BDR

Sumbawa Besar, Gaung NTB

Guru SDIT Insan Qur’ani (IQ) Sumbawa selama pandemi Covid 19 perjuangannya luar biasa, mereka tetap berusaha menjaga dan meningkatkan hapalan Al-Qur’an siswa, melaksanakan protokol kesehatan ketat 3M dan upaya pembiasaan menjaga wudhu pada siswanya dalam satu hari penuh, mengajarkan rukyah air sebagai penguat sistem imun untuk kesehatan siswa dan orangtua dengan membaca Al-Fateha sebanyak 7 kali sebelum minum air putih bahkan memiliki buku mitra pegangan orangtua sebagai penilaian harian seperti sholat 5 waktu, mengaji, hapalan, membantu orangtua dan aktivitas belajar yang menyenangkan lainnya dalam rangka menumbuhkan dan menguatkan pendidikan karakter, kecakapan hidup, literasi maupun numerasi.

Sekolah ini memang fokus pada hapalan Al-Qur’an dengan tagline The Best Patner For Parent, targetnya satu tahun satu juz jika 6 tahun maka 6 juz bagi siswanya yang memiliki praktek baik dapat menjadi contoh bagi guru lainnya.

Sebelum pandemi, pembelajaran sudah melaksanakan sistem pembagian kelompok dengan rasio guru mengajar dalam satu kelas ada 6 orang, satu guru memegang siswa binaan sebanyak 5 orang sehingga guru dan siswa SDIT IQ adalah paling siap melaksanakan kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) saat pemerintah melarang pembelajaran tatap muka di sekolah melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Metodenya tentu memindahkan pembelajaran yang sebelumnya sudah dilakukan di sekolah menjadi di rumah. Ketika satu kelas ada 30 siswa maka akan dibagi 5 siswa dalam satu kelompok dibina oleh satu guru jika disekolah lain biasanya rata-rata BDR dipegang oleh satu guru dalam satu kelas dengan 30 siswa maka kunjungan rumah akan terasa melelahkan karena baru selesai sekitar 1 minggu maka disekolah ini pembelajaran selesai dalam sehari.

Guru lakukan BDR daring dan luring dengan kunjungan rumah (home visit) namun terlebih dahulu guru dan siswa menyepakati akan belajar di rumah siapa melalui grup Whatsapp, setelah ditentukan maka esoknya dimulailah pembelajaran dengan jadwal sama layaknya kegiatan belajar di sekolah yaitu pada pukul 08.00 sampai 09.00 Wita hapalan Al-Qur’an selanjutnya pukul 09.00 sampai 10.00 Wita membaca Al-Qur’an (tilawah) kemudian pada pukul 10.00 – 12.00 Wita pembelajaran umum tematik sesuai kurikulum darurat dari Kemendikbud tetapi tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid 19 seperti memakai masker, menjaga jarak, tidak hanya mencuci tangan dengan sabun tetapi pembiasaan menjaga wudhu ketika batal maka wudhu lagi dan menjaga wudhu lebih tinggi tingkat kebersihannya melewati standar WHO serta pembiasaan pola hidup bersih dan sehat.

Akan tetapi pihak sekolah juga memberikan pilihan jika guru ingin full satu hari interaksinya dengan Al-Qur’an tanpa pembelajaran umum saat BDR diperbolehkan karena pemerintah memberikan keistimewaan tanpa harus menuntaskan sesuai standar kurikulum 2013, pada prinsipnya siswa tetap mendapat hak untuk belajar tanpa harus dibebankan dengan tugas yang berat bahkan literasi paling tinggi dan dapat meningkatkan sistem imun adalah baca dan hafal Al-Qur’an namun permasalahan muncul saat siswa tidak datang BDR ke rumah (temannya) yang sudah disepakati, menjadi beban guru untuk mengejar ketertinggalan maka guru akan menelpon orangtua siswa guna setor hapalan.

“Krusial ketika satu hari anak tak hadir belajar kelompok, karena sistemnya satu hari satu baris hapalan, ketika siswa tak datang 2 hari maka 2 baris hilang sehingga beban guru sangat besar bahkan ada yang datang ke rumah siswa bersangkutan, atau via telpon, video call, pesan suara dan lainnya hanya untuk setor hapalan satu baris dalam sehari,” demikian disampaikan pemilik Yayasan Muhammad Nur Jamaluddin, pendiri dan Pembina SDIT Insan Qur’ani Sudirman, SPdI kepada Gaung NTB jum’at (9/10).

Menurutnya, banyak yang mengatakan BDR efisiensi karena mengurangi beban pembiayaan tetapi sebenarnya tidak, karena adanya peningkatan pengeluaran pulsa dan kuota bagi guru sedangkan sekolah ini memiliki total 50 guru, sehingga pembiayaan membengkak dan hapalan anak juga dilakukan pengulangan hapalan setiap hari ketika tidak datang saat home visit menyebabkan hapalan hilang membuat hapalan yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun menjadi hilang dalam seminggu.

“Saya belum pernah menemukan sekolah di NTB maupun Indonesia yang memiliki rasio guru SD paling banyak seperti di sekolah kami bahkan dipondok saja tidak sebanyak ini, saya berani melakukannya untuk melahirkan insan Qur’ani penerus estafet bangsa ke depan,” katanya.

Ia menjelaskan, ketika pemerintah mengeluarkan izin simulasi pembelajaran tatap muka dan SDIT IQ tidak mendapatkannya, maka pihak yayasan dan kepala sekolah langsung menemui kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumbawa H Sahril MPd agar bisa mendapatkan izin khusus untuk simulasi pembelajaran tatap muka karena dikhawatirkan hafalan Al-Qur’an anak hilang ketika tidak dilakukan pengulangan setiap harinya, sulit juga evaluasi hapalan dengan online karena pembiayaan pulsa cukup berat untuk 50 guru, syukurnya disetujui oleh Kadis Dikbud.

Lebih jauh, pertimbangan dan persyaratan izin khusus itu pihak sekolah mampu menerapkan protokol kesehatan maksimal yaitu menjaga kebersihan sekolah, menyemprot disenfektan, adanya alat pengukur suhu tubuh, tempat untuk mencuci tangan ada didepan ruang kelas masing-masing, anak tidak boleh saling pinjam peralatan baik peralatan tulis ataupun peralatan makan, tidak ada jam istirahat, guru mengawasi siswa saat makan didalam kelas dan tidak ada saling bersentuhan dengan hanya salam korona serta sistem menjaga jarak dengan pembagian kelompok dalam pembelajaran yakni dipojok samping kanan, kiri depan, belakang sehingga satu guru akan menyampaikan materi pembelajaran dan 5 lainnya mengawasi siswa dan menyimak apa yang disampaikan rekannya tersebut.

“Kami memilih penggabungan tatap muka dengan BDR yaitu satu hari masuk tatap muka dan besok BDR dengan jadwal kelas 1 dan 2 masuk sekolah senin, rabu, jum’at dan kelas 3,4,5 masuk selasa, kamis dan sabtu, kami juga welcome jika pengawas dan tim satgas ingin memantau pelaksanaan simulasi pembelajaran tatap muka di sekolah kami, karena sudah kami jalankan sesuai persyaratan,” jelasnya.

Dengan BDR ini sambungnya, guru dan orangtua belajar saling memahami keterbatasan yang ada dan keduanya semakin kreatif dalam mentransfer ilmu kepada anak.

“Kami juga ada pelatihan kelas parenting kepada orangtua agar mudah memfasilitasi anak dalam belajar dan pelatihan membaca Al-Qur’an bagi orangtua yang belum fasih membaca Al-Qur’an setelah new normal akan kami jalankan lagi sehingga orangtua juga bisa dapat ilmunya dan program ini direspon baik oleh para orangtua bahkan ada pelatihan totok punggung untuk menjaga sistem imun dan herbal alami penangkal Covid 19,” seraya mengucapkan terimakasih kepada guru dan orangtua yang telah bekerjasama dengan baik selama 6 bulan BDR semoga doa kita bersama Covid 19 ini segera berakhir dan anak bisa kembali belajar dengan normal. (Gks)