Hukum Pembelian Kredit | IHRAM

    IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Transaksi jual beli kredit terjadi pada saat barang diterima pada saat transaksi dengan pembayaran nontunai dengan harga yang lebih tinggi dari harga tunai. Bagaimana Islam memandang hal ini?

    Dikutip dari buku Aset Muamalat Haram Kontemporer oleh Erwandi Tarmizi, Hakikat membeli barang secara kredit adalah membeli barang dengan cara berhutang. Utang tidak dianjurkan dalam hukum Islam kecuali seseorang benar-benar membutuhkan barang tersebut dan dia merasa mampu untuk melunasinya. Maka tidak dianjurkan bagi seorang muslim untuk membeli barang yang bersifat kemewahan secara kredit.

    Anas bin Malik radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa kepada Allah agar dilindungi dari jeratan hutang, seraya bersabda,

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluhan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kikir dan pengecut, dari jeratan hutang dan orang-orang yang menindas.” (HR Bukhari).

    Ketika ditanya mengapa dia berlindung dari jeratan hutang dia menjawab, “Karena orang yang berhutang, ketika dia berbicara dia akan berbohong dan ketika dia berjanji dia akan mengingkarinya”. (HR.Bukhori).

    Argumen ini menunjukkan bahwa berhutang tidak dianjurkan dalam Islam, kecuali jika seseorang sangat membutuhkan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha,

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi secara cuma-cuma dan memberikan baju besinya sebagai jaminan.” (HR.Bukhori).

    Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhutang untuk menutupi kebutuhan pokoknya, yaitu untuk mendapatkan makanan untuk dirinya dan keluarganya, bukan untuk barang-barang mewah. Hal tersebut berbanding terbalik dengan sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sikap sebagian umat Islam yang terlalu mudah membeli barang secara kredit.

    Dengan demikian, jika seseorang sangat membutuhkan suatu barang dan diperkirakan mampu untuk melunasinya, maka dibolehkan membeli barang tersebut secara kredit (Qadhayaa Fil Iqtishad Wat Tamwil Islami), meskipun harganya lebih mahal. dari harga tunai jika kondisi lain terpenuhi.

    Jual beli kredit diperbolehkan dalam Islam menurut keputusan Majma Al Fiqh Al Islami (bagian fiqh OKI), No. 51 (2/6) 1990 yang berbunyi, “Dibolehkan menaikkan harga barang yang dijual untuk non -tunai daripada tunai yang dijual … dan harganya dibayar dengan mencicil dalam jangka waktu tertentu” (Jurnal Dewan Fiqih Islam). Juga fatwa dewan ulama kerajaan Arab Saudi, tidak ada fatwa: 1178.

    Sebagian ulama kontemporer melarang jual beli kredit yang harganya lebih mahal dari uang tunai, pendapat ini dipopulerkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah (Silsilah Ahadits as Shahihah).

    Diantara dalil yang mendukung pendapat tersebut adalah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu,

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua jual beli dalam satu jual beli”. (HR.Tirmizi).

    Diantara pengertian dua bentuk jual beli dalam satu jual beli, yaitu: penjual berkata, “Saya menjual barang ini secara kredit dengan harga ini dan tunai dengan harga itu”. Jadi jual beli kredit termasuk dalam larangan ini karena harganya ada dua: kredit dan tunai.

    Tanggapannya, argumentasi ini tidak kuat, karena bertentangan dengan dalil Al-Qur’an dan sunnah yang telah dijelaskan bahwa diperbolehkan menjual barang secara kredit dengan harga yang lebih tinggi.

    Ada juga kesalahan dalam penafsiran makna hadits di atas, yang benar seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma,

    “Seseorang boleh menjual barangnya dengan mengatakan, “Barang ini sangat mahal harganya dan tidak begitu banyak uang tunainya.” Tetapi tidak diperbolehkan bagi penjual dan pembeli untuk berpisah kecuali mereka sama-sama senang dengan salah satu harga” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah).

    Dan juga Imam Syafi’i berkata:

    Penjual berkata, “Saya akan menjual budak ini jika uangnya adalah seribu dinar dan jika kreditnya dua ribu, mana saja dari dua perdagangan ini yang saya pilih atau Anda pilih, maka akad menjadi umum.” Jual beli ini dilarang. karena harganya tidak jelas” (Mukhtashar Al-Muzani).

    Dan juga Shu’bah, dia berkata, “Saya bertanya kepada Al Hakam dan Hammad tentang seorang pria yang membeli sesuatu dari seseorang, dia berkata, “Uang tunai sebanyak itu dan bukan uang tunai sebanyak itu. Dia berkata: Perdagangan seperti itu diperbolehkan jika mereka berpisah dan telah menentukan satu harga. harganya” (Mushannaf bin Abi Syaibah).

    Juga sebagaimana dikatakan oleh Tirmizi setelah meriwayatkan hadits di atas, “Para ulama menafsirkan makna hadits ini, bahwa bentuk melakukan dua jual beli dalam satu penjualan, yaitu: penjual berkata, “Saya menjual qamis ini, dengan harga 10 dinar tunai dan 20 dinar kredit. . Kemudian penjual dan pembeli berpisah sedangkan perjanjian salah satu jual beli (kredit atau tunai) belum terjadi. Adapun jika mereka berpisah dan telah terjadi kesepakatan pada salah satu transaksi, maka transaksi ini diperbolehkan.”

    Dari uraian di atas, pendapat yang membolehkan jual beli kredit adalah pendapat yang paling kuat. Karena dalil-dalil yang mengharamkan pendapat sangat lemah dan terdapat salah tafsir terhadap makna hadis.



    https://www.ihram.co.id/berita/qz9f5u430/hukum-jualbeli-kredit