Impian seorang pria bersinar di masjid, wanita ini menjadi mualaf

Wanita ini masuk Islam setelah bermimpi melihat pria bercahaya di masjid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Hidayah (26 tahun), adalah sebutan perempuan muslim keturunan Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun kedua orang tuanya menetap di Malaysia karena bekerja. Sehingga Hidayah lahir dan besar di Malaysia.

Hidayah tinggal di Malaysia hingga lulus SMP bersama keluarganya. Namun, karena kontrak karya orang tua mereka habis, mereka memutuskan untuk kembali ke NTT.

Berbeda dengan pilihan keluarganya, Hidayah memutuskan untuk pergi. Hanya setahun dia bersama keluarganya dan pada 2014, dia pergi sendiri ke Balikpapan, Kalimantan Timur.

Hidayah dan keluarganya dikenal sebagai pemeluk agama yang taat, bahkan orang tuanya sangat fanatik. Sejak kecil, mereka tidak pernah absen dari ibadah setiap hari Minggu.

Namun, berbeda dengan Hidayah, sejak mengembara dalam hidupnya ia tidak lagi merasa damai. Masalah selalu datang dan pergi. Mencoba untuk tetap setia pada agamanya tetapi itu juga tidak membuatnya damai.

Hingga suatu saat, Hidayah memiliki teman muslim. Dia melihat kepribadian mereka yang sopan dan baik hati.

Mereka sangat mengikuti ajaran Islam. Hidayah merasa teman-teman muslimnya hidup damai, meski tidak lepas dari masalah.

“Sejak saya hijrah, saya sudah pindah dan lebih banyak bekerja di restoran tapi masih di daerah Balikpapan, tapi entah kenapa, pas saya sedikit depresi saya selalu pasrah dan pindah kerja,” ujarnya.

Melihat sahabat muslim yang memiliki cara pandang berbeda dalam memandang kehidupan. Hidayah mulai mempelajari Islam. Namun, dia tidak langsung memeluk Islam.

Hidayah mendalami Islam cukup lama, dari 2015 hingga 2018. Hidayah mengaku saat itu masih egois dan berusaha menolak kebenaran Islam.

Hidayah sebelumnya hanya percaya pada Tuhan yang bisa dilihat oleh mata. Karena Allah dalam Islam yang dia kenal sebelumnya tidak bisa dilihat berbeda dari agama sebelumnya yang digambarkan dan diwujudkan dalam sebuah gambar.

Padahal banyak bukti yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT. Salah satunya adalah mimpi seorang pria berjubah putih dan bertopi, tetapi wajahnya tidak terlihat. Dia hanya terlihat berkulit putih saja. Pria itu ada di masjid.

Setelah berpikir lama, dia memutuskan untuk memeluk Islam. Tetapi saat itu dia tidak mengerti bahwa untuk memeluk Islam, Anda harus memeluk Islam.

Hidayah hanya mengetahui bahwa seorang Muslim sedang mengaji sehingga dia meminta saudaranya untuk mengajari dia mengaji. Setelah mendapat penjelasan tepat pada 16 Oktober 2018, ia memeluk agama Islam.

Kakak angkat inilah yang kemudian menjadi saksi pengakuannya di Ambarawang Darat, Kalimantan Timur. Awalnya kakaknya mengajaknya tinggal bersama keluarganya untuk belajar agama Islam, terutama pelajaran sholat, namun karena Hidayah masih punya pekerjaan di Balikpapan, dia memutuskan untuk belajar hanya beberapa hari dan pulang dengan membawa pemandu sholat.

Setelah setahun Hidayah menjadi Muslim, kakaknya bisa menerima pilihan hidupnya. Hanya saja Hidayah dilarang memberitahu orang tuanya, karena takut orang tuanya akan jatuh sakit karena tidak bisa menerima kenyataan.

Namun, Hidayah tetap berhubungan dengan orang tuanya. Tanpa memberitahunya dia telah menjadi seorang Muslim. Jika dipaksakan saat orang tuanya mengingatkan untuk beribadah di agama sebelumnya, Hidayah hanya mengiyakan.

Dia juga mengenakan kerudung, meski hanya secukupnya. Kerudung pendek yang belum Islami dan sesuai dengan pedoman. Namun dalam hatinya, ia selalu berdoa agar bisa bekerja di tempat yang mengijinkan berbusana syariah.

Meski sudah setahun beragama Islam, Hidayah tidak lancar dalam salat. Jadi dia mencoba mencari seorang mentor. Ia bersyukur bisa bertemu dengan Balikpapan Center Mualaf.

Di tempat inilah dia mendapat bimbingan sholat hingga lancar. Hidayah mengaku kesulitan menghafal dan membaca bacaan doa, karena menggunakan bahasa baru yang ia kenal. Ia yang baru lulus SMP ini mengalami kesulitan yang cukup berat, terutama dalam mengucapkan huruf hijaiyah.

Saat ini beliau masih belajar tahsin di Masjid Ar Rahmah, Sepinggan Pratama. Tak hanya itu, sejak menempuh pendidikan di Mualaf Center, ia juga mendapat pekerjaan sebagai marbot di masjid khusus jompo.

Namun sejak pandemi tersebut, Hidayah dibantu di dapur umum di Pondok Pesantren Ar Rahmah yang juga dikelola oleh Mualaf Center. Karena belum menikah, Hidayah mendapat kamar kos dan tinggal disana.

“Sejak saya bekerja di masjid saya mulai belajar berbusana syariah dan berjilbab, pada awalnya cukup sulit karena saya belum terbiasa, tapi ternyata ini jawaban dari shalat saya sebelumnya, Saya kemudian menjalaninya selalu dengan rasa syukur, ”ujarnya.

Awalnya di dalam hatinya selalu mengeluh tentang berpakaian seperti itu, namun karena ini adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah, Hidayah mulai terbiasa. Butuh waktu satu tahun untuk membiasakan diri dengan gaya fesyennya saat ini.

Tidak hanya berbusana syariah, setelah menjadi seorang Muslim, Hidayah juga meninggalkan semua gaya hidup yang dilarang oleh Islam.

Untuk makanan dan minuman yang haram, karena syahadat sudah berhenti sama sekali. Adapun gaya hidup, seperti bergaul dengan anggota baru lawan jenis setelah pindah ke tempat kerja baru, ia mampu mempertahankannya.

Bagi mereka yang tidak bahagia, banyak teman telah meninggalkannya dan dia telah meninggalkan mereka. Namun bagi yang menerima perubahan gaya hidupnya, Hidayah tetap berhubungan dengan mereka.

Hanya saja saat berpuasa, Hidayah mengaku menjalaninya pertama kali cukup berat. Dalam agama lama, ada ritual puasa, namun tetap diperbolehkan makan nasi dan minum air putih.

Padahal dalam Islam, dari subuh hingga senja seorang muslim wajib menahan rasa haus dan lapar. Hidayah tergoda apalagi saat libur kerja karena ada teman muslim yang tidak berpuasa atau non muslim yang makan didepannya.

Ia mengaku beberapa kali membatalkan puasanya. Di tahun keduanya, Hidayah sudah terbiasa, selain itu dia bekerja dan hidup di lingkungan yang mendukung.

Di pesantren ini santri biasanya belajar tahfidz al-Qur’an, namun karena Hidayah kurang lancar membaca Alquran maka diutamakan untuk tahsin. Selain itu, ada juga pelajaran untuk meningkatkan gerak dan membaca doa. Mereka yang memiliki waktu luang juga dipersilakan bergabung dengan tim relawan, baik membantu sesama mualaf maupun masyarakat sekitar.

Hidayah juga rutin mengikuti studi. Jika sebelum pandemi ada studi tatap muka di masjid, sekarang studi lebih banyak dilakukan secara online. Hidayah tidak hanya mengikuti studi online yang diadakan oleh pusat mualaf, dia juga sering menonton beberapa video studi online seperti Ustaz Hanan Attaki.

Sebagai seorang marbot tentunya salah satunya adalah menjaga kebersihan. Inilah yang selalu dia terapkan. Dulu, dia tidak mengerti bahwa setelah dibersihkan dia akan berwudhu dan langsung shalat.

Padahal, bisa jadi selama bekerja, pakaiannya najis. Sehingga pakaian untuk bekerja dan sholat harus diganti.

“Di hadapan Allah kita harus berpakaian lebih harum dan lebih rapi dibanding saat bertemu orang, jika bertemu orang kita tidak ingin terlihat berantakan,” terangnya.

Ia berharap saat ini sebagai seorang Muslim, keislamannya tetap terjaga dan dipertahankan. Ia pun berharap kelak orang tuanya akan mengenal dan menerima Islamnya bahkan memeluk Islam.




Source