Inilah kerugian masyarakat jika terpaksa pulang dengan perjalanan gelap

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi menjelaskan empat risiko bagi orang yang memaksakan diri untuk pulang menggunakan agen perjalanan ilegal. Pertama, penumpang berisiko terpapar Covid-19 karena perjalanan ilegal tidak mengedepankan protokol kesehatan (prokes).

Jika ada satu penumpang yang membawa virus tersebut, maka mobil yang satu tersebut akan tertular yang kemudian akan membahayakan masyarakat di tempat tujuan para pemudik tersebut. “Angkutan illegal atau illegal travel, biasanya supir atau operator tidak memperhatikan program Covid-19. Pokoknya sudah terisi penuh, makin penuh makin untung,” kata Budi Setiyadi dalam webinar “Mudik Sehat From Home “dengan Jejaring Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) Jumat (30/4) malam.

“Itu sebabnya kami mengambil tindakan pencegahan terhadap perjalanan ilegal agar orang tidak tertular Covid-19. Jika seseorang membawa virus, semua orang tertular,” katanya.

Risiko kedua, menurut dia, penumpang yang melakukan perjalanan ilegal tidak mendapatkan perlindungan asuransi kecelakaan lalu lintas. “Bepergian itu ilegal, karena ilegal, kalau terjadi kecelakaan tidak dijamin oleh Asuransi Jasa Raharja, tidak dijamin, beda dengan yang resmi,” ujarnya.

Budi menjelaskan, risiko ketiga bagi penumpang travel adalah tarif atau biaya yang tinggi dan tidak dibarengi dengan pelayanan yang optimal. “Perjalanan ilegal memiliki tingkat yang sangat tinggi. Kerugian penumpang, harga lebih tinggi dan tidak ada layanan protokol pencegahan Covid-19,” katanya.

Hal keempat yang menjadi risiko penggunaan title travel adalah dapat merusak ekosistem angkutan darat dinas. Ia mengatakan, jumlah penumpang bus dinas akan berkurang karena sebagian penumpang memaksakan diri untuk melakukan perjalanan ilegal.

“Perjalanan ilegal merusak ekosistem transportasi yang sudah legal atau berizin. Jadi jika bus dinas berpelat kuning keluar dari terminal dan penumpangnya kurang, itu akibat penumpang lain menggunakan perjalanan ilegal. Merusak ekosistem,” kata Budi. .

Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya telah menangkap 115 kendaraan angkutan ilegal di wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam dua hari operasi, 27-28 April 2021. Sebanyak 115 perjalanan ilegal terjaring melalui kerja sama operasi Polda. Metro Jaya Ditlantas dan Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta. Operasi itu dilakukan baik melalui patroli dunia maya di media sosial maupun pengawasan langsung jalur mudik.

Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) Edo Rusyanto mengatakan, selain membatasi penyebaran Covid-19, pembatasan mudik juga mengurangi angka kecelakaan. Berdasarkan data yang saya kutip dari Korlantas Polri, pada tahun 2020 kasus kecelakaan turun 31 persen dengan angka kematian juga menurun hingga 63 persen, ”ujarnya.

Namun, Edo mengingatkan potensi mobilitas masyarakat tetap ada pada masa mudik, misalnya saat jalan-jalan di dalam kota. “Tetap jalankan prokesnya, dan yang terpenting menjaga keamanan bersama agar kecelakaan lalu lintas bisa diminimalisir,” kata Edo.

Untuk itu, Edo kembali menggemakan sinergi pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta, dan masyarakat, untuk bersama-sama menekan kematian akibat kecelakaan secara maksimal.


Source