Internasional Didesak untuk Mengambil Tindakan untuk Mencegah Konflik Myanmar

    Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer merebut kekuasaan pada 1 Februari

    REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michele Bachelet pada Kamis (23/9) mendesak masyarakat internasional untuk melakukan yang terbaik agar konflik di Myanmar tidak semakin parah. Bachelet memperingatkan bencana hak asasi manusia di bawah kekuasaan militer di Myanmar.

    “Konsekuensi nasional bisa mengerikan dan tragis, konsekuensi regional bisa sangat besar. Komunitas internasional harus menggandakan upayanya untuk memulihkan demokrasi dan mencegah konflik yang lebih luas sebelum terlambat,” kata Bachelet dalam sebuah pernyataan.

    Negara-negara Barat telah mengutuk junta militer Myanmar dan menjatuhkan sanksi kepada pejabat tinggi militer. Tetapi para kritikus mengatakan Barat harus mengambil sikap yang lebih keras, termasuk embargo senjata. Bachelet mengatakan Myanmar telah gagal memenuhi kesepakatannya dengan ASEAN untuk mengakhiri kekerasan dan memulai dialog.

    “Ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk langkah-langkah akuntabilitas yang kuat,” kata Bachelet.

    Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer merebut kekuasaan pada 1 Februari. Kudeta itu menandai berakhirnya satu dekade demokrasi tentatif dan memicu kemarahan di dalam dan luar negeri atas kembalinya kekuasaan militer.

    Hampir setiap hari protes anti junta militer mewarnai Myanmar. Pasukan keamanan menggunakan tindakan keras untuk membubarkan protes. Menurut PBB, lebih dari 1.120 orang telah tewas sejak kudeta.

    Pasukan perlawanan bersenjata telah terbentuk di berbagai daerah dan sering bentrok dengan militer. Hal ini mendorong ribuan orang mengungsi ke negara tetangga, termasuk India dalam beberapa hari terakhir.

    Bachelet mengatakan pasukan telah menggunakan senjata terhadap warga sipil yang dimaksudkan untuk konflik militer. Mereka melakukan serangan udara dan serangan artileri tanpa pandang bulu.

    Media lokal di Myanmar melaporkan kekerasan mematikan di setidaknya lima wilayah dan negara bagian yang berbeda pada hari Kamis. Serangan tersebut termasuk penggunaan bom rakitan oleh milisi yang bersekutu dengan pemerintah bayangan yang memerangi junta.

    sumber: Reuters



    https://www.republika.co.id/berita/qzwa36459/internasional-didesak-bertindak-cegah-konflik-myanmar