Izin Mitan Baru Belum Jelas Tambahan Mitan KSB 2016 Hangus

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Setelah adanya pemisahan kuota minyak tanah bersubsidi antara Kabupaten Sumbawa dengan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) berdasarkan surat keputusan Badan Pengatur Hilir (BPH) Minyak dan Gas Bumi No. 02/P3JBT/BPH MIGAS/KOM/2016 tentang kuota, volume jenis bahan bakar tertentu per-provinsi/kab/kota oleh PT Pertamina (persero) tahun 2016.
Dalam surat keputusan tertanggal 22 Februari 2016 tersebut, jelas disebutkan kuota KSB sebesar 3.984 kilo liter setahun atau setara dengan 75 drum sehari jika di angkut dengan mobil tangki khusus kapasitas 5.000 liter maka volumenya menjadi dengan 15.000 liter perhari.
Selama ini kuota regular yang sudah direalisasi (diangkut agen UD Ghazi Muhammad) sebanyak 10 KL/hari (2 tanki) ditambah kuota pengendalian setiap bulan sebanyak 10.KL (2 tanki) dengan jadwal hari Ju`mat. Maka dengan adanya tambahan tersebut memberikan angin segar bagi masyarakat karena ada penambahan BBM bersubsidi. ”kita sangat bersyukur sekali dengan hal tersebut sehingga bisa kita alokasikan pada desa/kelurahan yang selama ini belum menikmati mitan bersubsidi,” ungkap Kasi Migas dan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Sumbawa, Indrajaya, SPt, MSi.
Dengan berlakunya surat keputusan BPH Migas tersebut seharusnya tambahan 1 tanki minyak tanah bersubsidi sudah bisa di nikmati masyarakat KSB sejak bulan Februari 2016,tapi karena masih terkendala administrasi (perizinan) calon agen baru yang akan mendistribusikan belum keluar dari PT Pertamina, maka sampai sekarang sudah delapan bulan berjalan hal tersebut belum dapat direalisasikan (angkut) pihak transportir BBM jenis minyak tanah. ”Kami belum mengetahui pasti kapan izin tersebut dapat direalisasikan (izin) oleh PT Pertamina, mengingat kita sangat rugi sekali jika sampai akhir tahun 2016 belum dapat didistribusikan pada masyarakat oleh agen baru, maka kemungkinan besar akan hangus karena rencananya konversi (penganti) subsidi minyak tanah ke gas LPG 3 kg akan dilaksanakan tahun depan,” terang Indrajaya.
Menurut Indrajaya, pihaknya sudah melakukan rapat koordinasi, Jum`at (16/9) lalu, dengan para pihak manjemen calon agen mitan KSB (CV Rizka Taliwang) serta instansi terkait lainnya guna mengetahui sejauhmana izin dapat di kantongi, serta kelengkapan lainnya termasuk perlunya melakukan studi banding pada agen BBM lainnya yang telah lama aktif di luar KSB, sehingga ada kesiapan teknis dari manejement perusahan mitra Pertamina terebut nantinya.
Terkait perizinan dari PT Pertamina pihak calon agen (CV Rizka) telah menjelaskan pada pihak ESDM pada rakor tersebut, bahwa dalam proses dan akan dilakukan pengecekan lapangan terkait sarana prasarana yang telah disiapakan seperti mobil tanki 3 unit, gudang tanki, tenaga kerja (operator admin dan supir) serta kelengkapan teknis lainnya. Terhadap permasalahan tersebut pihak Dinas ESDM akan terus memberikan support serta memfasilitasi kelengkapan teknis yang diperlukan sehingga proses perizinan dapat segera di terbitkan pihak Pertamina. “Kami siap melakukan berbagai persiapan terkait kelengkapan perizinan yang akan dikeluarkan pihak Pertamina nantinya”, kata Indrajaya menirukan kesiapan pihak manajemen calon agen kepada peserta rakor.
Proses distribusi selama ini dari Depot Pertamina Badas Sumbawa, diangkut oleh pihak agen resmi Pertamina (UD Ghazi Muhammad) ke pangkalan resmi yang berada di tingkat dusun/desa/kelurahan pada delapan kecamatan di KSB yang tercatat selama ini berjumlah 60 badan usaha mikro. Dari pangkalan ini mereka salurkan kepada rumah tangga sasaran sebanyak 5 liter tiap KK setempat jika menggunakan pola gilir.untuk pola bagi habis yang disepakti antara pangkalan dengan warga dan pemerintah desa/Lurah setempat maka ada yang hanya dapat 1-2 liter/KK tiap minggunya.
Implikasi lain adanya informasi tambahan mitan bersubsidi untuk KSB tersebut sudah ada 8 warga KSB yang datang mengurus perizinan usaha pangkalan (TDP,SIUP,HO,dan izin simpan/timbun) untuk menjadi calon pangkalan resmi, namun pihak ESDM belum dapat memberikan karena masih belum jelasnya jadwal distribusi oleh agen resmi KSB serta belum adanya rekomendasi alokasi (volume) tiap wilayah kerja tiap pangkalan karena kami harus melakukan koordinasi dan kesepakatan dengan pihak terkait sebaran dan kuota bagi 12 desa/kelurahan yang belum memiliki pangkalan. ”Sengaja belum bisa kita keluarkan izin simpan/timbun khusus untuk alokasi tambahan kuota 25 drum atau 5000 liter karena masih belum jelas kapan kepastian jatah tambahan di angkut pihak agen resmi, jika sudah jelas maka pihaknya serta instansi lainnya secara simultan akan mengalokasikanya secara proporsional kepada warga yang selaa ini belum menikmati harga minyak tanah bersubsidi sesusi HET Rp.3500-3.550/liter tersebut,” demikian Indrajaya.