Jangan pernah membohongi anak sedikitpun, ini alasannya

Rasulullah SAW diajarkan untuk tidak membohongi anak-anak sekecil apapun

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Mengajar berbohong kepada anak adalah kesalahan besar yang dilakukan orang tua. Mereka tidak menyadari dampak dari ajaran yang buruk.

Jika Anda berbohong dengan dalih bahwa anak-anak masih belum mengerti atau mengerti, ini tidak benar. Karena anak-anak bisa merasakannya dan dalam proses tumbuh kembangnya akan terpengaruh dan kemudian meniru.

Dalam sejarah Abdullah bin Amir diceritakan tentang dirinya yang dipanggil ibunya. Saat itu Rasulullah SAW sedang duduk dirumahnya. Ibn Amir berkata, “Kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.”

Kemudian Rasulullah bertanya apa yang ingin dia berikan kepada putranya. Kemudian ibu Ibn Amir menjawab, “Saya berniat memberinya beberapa tanggal.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Jika kamu tidak memberinya apa-apa, kebohongan akan dicatat.”

Di dalam buku Aun al-Ma’bud Dijelaskan, hadits tersebut menunjukkan bahwa apa yang disampaikan kepada anak yang menangis sehingga tangisannya berhenti, misalnya dengan berbohong akan memberinya sesuatu atau menakut-nakuti dia dengan sesuatu yang diharamkan, maka itu adalah dusta.

Mungkin banyak dari kita yang memahami dasar-dasar mendidik anak dan ajaran luhur yang perlu ditanamkan pada anak. Namun lebih dari itu, yang terpenting adalah menanamkan ajaran luhur ini pada orang tua karena justru inilah yang paling sulit dilakukan.

Dengan kata lain, setiap orang tua harus menjadi panutan bagi anak-anaknya. Inilah makna mendalam dari Nabi Muhammad SAW diutus sebagai panutan. Karena bagaimanapun, seorang pendidik, baik itu orang tua di rumah, guru di sekolah, atau ulama dalam perkumpulannya, berada di bawah pengawasan orang-orang yang dididiknya.

Setiap tindakan yang dilakukan oleh orang tua, guru, atau pengkhotbah adalah pendidikan aktual untuk anak yang dia ajar. Oleh karena itu, tanpa disadari seorang anak akan menirunya, padahal itu bertentangan dengan perkataan orang tua.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

“Hai kamu yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan? Ada begitu banyak kebencian di sisi Allah sehingga kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.” (QS As Shaff ayat 2-3)

Beberapa orang berpikir bahwa melakukan kebohongan kecil itu masalah kecil. Padahal, anak-anak suka meniru diri sendiri sehingga tumbuh besar atas perbuatan tercela tersebut.

Parahnya lagi, jika orang tua terus mengajarkan kebohongan, anaknya akan kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya sehingga sering melakukan perbuatan tercela. Misalnya, tidak menepati janji. Jika kepercayaan antara orang tua dan anak rusak, sulit untuk memperbaikinya.

Apa yang dicontohkan Imam Bukhari dalam meriwayatkan hadits dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, khususnya orang tua. Suatu kali, dia datang menemui seorang syekh untuk mengambil hadits darinya. Saat duduk bersamanya, ada seorang anak dari kejauhan.

Syekh itu mengangkat tangannya sehingga anak laki-laki itu datang dan berpikir dia akan menerima sesuatu. Syekh telah menipu seolah-olah dia ingin memberikan sesuatu padahal tidak ada yang diberikan. Imam Bukhari juga meninggalkan syekh tersebut dan tidak mengambil hadits darinya, karena itu adalah dusta yang menurut kita mungkin kecil.

Sumber: islamweb




Source