Kaya Potensi Pengembangan Wakaf Nasional

    Wakaf bisa mengurangi pengeluaran, dari defisit bisa menjadi surplus.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perkembangan wakaf nasional dapat membawa banyak manfaat bagi masyarakat, termasuk mengurangi ketergantungan pemerintah terhadap pinjaman luar negeri. Pengamat Ekonomi Syariah yang juga Guru Besar Universitas Airlangga, Raditya Sukmana mengatakan, wakaf bisa digunakan untuk membantu pemerintah.

    “Wakaf bisa mengurangi pengeluaran, dari awal defisit keuangan negara bisa jadi surplus,” ujarnya dalam Wakaf Wakaf Dompet Dhuafa, Kamis (7/10).

    Dana wakaf dapat digunakan untuk program-program kemaslahatan sehingga dapat mengurangi beban pengeluaran pemerintah. Dia mencontohkan, ketika orang dermawan membangun sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur sosial lainnya, maka pengeluaran negara akan berkurang.

    Ketika dana wakaf digunakan secara optimal, Indonesia juga dapat terhindar dari riba dari pinjaman luar negeri. Saat ini kondisi keuangan negara sangat terbatas dengan pendapatan yang rendah sehingga pemerintah harus mencari dana asing dari luar negeri yang mayoritas berarti riba.

    “Kalau dana wakaf bisa kita pakai untuk membangun sekolah, rumah sakit, jalan tol, infrastruktur lainnya, maka kita tidak perlu meminjam dari luar negeri, jadi ketika wakaf sudah sangat berkembang kita bisa terhindar dari riba,” ujarnya.

    Ia mencontohkan, Menara Zamzam di Mekkah, Arab Saudi juga merupakan wakaf produktif. Bangunan megah di sebelah Ka’bah dibangun di atas tanah wakaf, sedangkan bangunan di atasnya merupakan pusat bisnis yang menghasilkan pendapatan yang signifikan.

    Sejumlah negara bahkan memiliki reksa dana berbasis wakaf. Indonesia juga memiliki wakaf saham, wakaf asuransi, dan sukuk terkait wakaf tunai. Raditya mengatakan wakaf bisa sangat fleksibel dan melahirkan berbagai inovasi karena memiliki cakupan yang luas.

    Wakaf dapat digunakan untuk infrastruktur, kesehatan, ketahanan pangan, energi, pendidikan dan kebutuhan dasar lainnya. Ia mencontohkan wakaf di bidang ketahanan pangan.

    Tanah wakaf dapat diusahakan sebagai lahan pertanian dengan bantuan dana dari wakaf tunai. Tingkat pembiayaan ini akan sangat murah dan bisa disesuaikan karena wakif tidak membutuhkan keuntungan. Pembangunan infrastruktur seperti membeli drone atau lainnya juga bisa berasal dari dana pembangunan.

    “Keuntungannya akan diberikan kepada masyarakat sekitar, petani, dan lainnya,” ujarnya.

    Ia juga mencontohkan mekanisme wakaf untuk bidang kesehatan seperti pada pelayanan VIP sebuah rumah sakit di Malang. Wakaf dapat melahirkan usaha lain yaitu minimarket, sehingga dapat menciptakan manfaat yang lebih besar lagi.

    Raditya mengatakan bahwa setiap universitas juga harus memiliki lembaga nazir sendiri untuk mengelola potensi universitas itu sendiri. Misalnya di Universitas Airlangga yang setiap tahunnya mengadakan sekitar 52 konferensi internasional. Pengelolaan auditorium, hotel, dan segala sesuatu yang terkait dengan konferensi harus didasarkan pada wakaf tunai.

    “Jika kita memiliki sebuah hotel, auditorium itu sendiri akan menjadi— menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari kita menyewa tempat lain, skema wakaf bisa lebih menguntungkan bagi kampus,” ujarnya.

    Sektor energi terbarukan juga sangat potensial, seperti yang terjadi di Muscat, Oman dengan masjid tenaga suryanya. Proyek ini mengurangi konsumsi daya hingga 40 persen dan menghasilkan surplus daya dua persen. Ini juga melibatkan pengembang dari perusahaan kecil dan menengah.



    https://www.republika.co.id/berita/r0lkxq370/kaya-potensi-pengembangan-wakaf-nasional