Kebebasan Mengajar Seperti Guru Zilenial

Sebanyak 59 persen guru mengakui inovasi kunci terpenting untuk transformasi pendidikan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Agung Pardini, Aktivis Pendidikan di Dompet Dhuafa

Dalam lima tahun terakhir, dunia perguruan tinggi mulai dimasuki oleh guru-guru baru dari Generasi Milenial. Mereka didefinisikan sebagai generasi mikro yang merupakan transisi antara akhir Generasi Milenial (atau yang biasa disebut Generasi Y), dengan awal kemunculan Generasi Z di akhir tahun 90-an. Pada tahun 2021, usia termuda Generasi Milenial adalah 22 tahun atau sama dengan akhir masa studi Strata 1.

Zilenial sering dianggap sebagai pemimpin digital pribumi yang tidak hanya adaptif dengan perkembangan dekade ketiga abad 21, tetapi juga sering dianggap sebagai generasi yang penuh kreativitas, rasa ingin tahu yang tinggi, percaya diri, dan selalu terhubung satu sama lain. Generasi ini tidak hanya terintegrasi dengan kemajuan teknologi, tetapi juga lebih terbuka terhadap nilai-nilai baru dan panggilan untuk perubahan.

Apa yang paling spesial dari para guru generasi milenial ini? Mereka melakukan debut karir pertama mereka pada saat warga dunia sedang berjuang dengan pandemi Covid-19. Dengan demikian, beberapa guru muda ini resmi menjadi pendidik pemula tanpa mengalami proses tatap muka dengan siswanya.

Dengan karakteristik yang dirasakan di atas, banyak harapan yang disematkan pada momentum kedatangan guru-guru milenial ini. Mereka harus mampu menghasilkan inovasi-inovasi baru di bidang pendidikan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Selain pandemi, ada tiga gangguan besar lainnya, yakni kemajuan Industri 4.0, perubahan iklim global, dan pergeseran geopolitik dunia. Semua itu akhirnya memaksa revisi mendalam terhadap roadmap pendidikan nasional. Pada saat yang sama, ia juga menyerukan redefinisi cara belajar baru di semua sekolah.

Siswa yang tumbuh dan berkembang di era baru ini harus mendapatkan pendidikan yang benar-benar berbeda dari era sebelumnya. Jika dilihat dari kurikulum nasional, kerangka teori dan filosofi yang menjadi landasan fundamental pendidikan kita sebenarnya masih cukup kuat untuk menghadapi tantangan perubahan tersebut.

Kurikulum kami juga tidak jauh berbeda dengan hasil studi yang dilakukan oleh Bank Dunia, UNESCO, dan lembaga internasional lainnya. Perubahan empat dari delapan Standar Pendidikan yang menjadi acuan pengembangan Kurikulum 2013 juga memiliki tujuan, salah satunya untuk membangun keseimbangan keterampilan keras dan keterampilan lunak sesuai dengan keterampilan abad ke-21.

Setelah pandemi ini berakhir, pembelajaran juga diharapkan kembali normal seperti biasa. Namun, wajar jika pandemi bisa berakhir, iklim pendidikan di segala bidang hampir tidak mungkin bisa kembali normal. Baik pendidikan formal, nonformal, bahkan informal, ketiganya bergerak mencari keseimbangan dan adaptasi baru. Pada akhirnya, semua pelaku pendidikan maupun masyarakat umum akan terbiasa meninggalkan kebiasaan lama sebelum krisis.

Pendidikan terus dipaksa untuk bertransformasi agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan zaman. Momentum pandemi ini bisa dimanfaatkan untuk membuka sejumlah peluang baru yang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan ide-ide prototipe pendidikan setidaknya untuk satu dekade ke depan.

Dalam survei yang dilakukan Dompet Dhuafa melalui program Sekolah Guru Indonesia kepada 400 responden guru di 80 kabupaten/kota dan 20 provinsi pada pertengahan April 2021, 59 persen guru mengakui bahwa inovasi adalah kunci terpenting transformasi pendidikan, baik di masa pandemi dan juga untuk zaman sesudahnya. Oleh karena itu, guru khususnya guru Zilenial harus diberi kesempatan belajar yang lebih besar agar dapat mengembangkan inovasi-inovasi baru. Tidak hanya dalam pembelajaran, inovasi juga harus berkembang di wilayah pendidikan yang jauh lebih luas.

Kepemimpinan guru milenial

Berbeda dengan konsep guru yang kita pahami saat ini, konsep guru di masa depan harus mampu menciptakan varian “perusahaannya sendiri”. Karena semua orang di era digital adalah pemilik bisnis yang mandiri. Banyak guru di masa depan tidak bekerja untuk orang lain, tetapi berkolaborasi dengan banyak orang.

Saat ini, ribuan guru mampu bertahan dalam profesinya karena telah dijamin statusnya, baik sebagai ASN (PNS) maupun sebagai GTY (Guru Tetap Yayasan). Pendapatan guru di masa depan tidak harus ditentukan oleh status mereka, tetapi oleh kompetensi dan inovasi dalam produk layanan pengajaran mereka sendiri.

Sudah sepatutnya sekolah mencari guru terbaik, bukan guru yang mencari pekerjaan di sekolah favorit. Ini seperti hubungan resmi antara profesi dokter spesialis dan rumah sakit. Keduanya saling membutuhkan, saling bermitra, dan bukan sekolah yang mempekerjakan guru dengan cara menekannya sesuka hati.

Untuk itu, para guru milenial harus belajar dari konsep persekolahan dan konsep pelatihan guru yang kita pahami saat ini. Dengan kemajuan teknologi, guru dapat memilih menjadi pendidik mandiri, tidak harus terikat pada satu institusi sekolah. Inilah model bisnis yang bisa dikembangkan guru ke depan yaitu “Merdeka Mengajar” ala Milenial”.

Untuk memulai suatu perubahan, menurut Oemar Hamalik (2009:44), seorang guru harus memiliki berbagai keterampilan yang dibutuhkan sebagai seorang pemimpin, seperti, bekerja dalam tim, keterampilan komunikasi, bertindak sebagai penasihat dan orang tua bagi siswanya, keterampilan dalam melakukan pertemuan, diskusi. , dan membuat keputusan yang tepat, cepat, rasional, dan praktis. Pengembangan kepemimpinan untuk profesi guru bukan hanya kemampuan untuk mempengaruhi, tetapi juga kemampuan untuk mengelola beberapa kolaborasi. Intinya, kepemimpinan milenial adalah seni berbagi dan berkolaborasi. Beginilah cara kepemimpinan bekerja di Industri 4.0.

Di tengah situasi yang tidak menentu seperti saat ini, memulai sebuah inovasi baru belum tentu membawa kesuksesan. Jika hanya berdiam diri tanpa ingin berinovasi, sudah pasti hasilnya akan gagal karena waktu yang tertinggal. Tapi bukan milenial kalau tidak berani memimpin perubahan baru dengan inovasi. Selamat datang guru milenial, kami sudah lama menunggumu!



https://www.republika.co.id/berita/qwkz09423/merdeka-mengajar-ala-guru-zilenial