Kebutuhan Baja Meningkat, Produksi Industri Logam Diminta

    Kementerian Perindustrian menargetkan industri logam dasar tumbuh 3,54% tahun ini.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu kinerja industri logam agar bisa memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Apalagi, permintaan baja dinilai terus meningkat, baik di pasar domestik maupun ekspor.

    “Tercatat industri logam dasar tumbuh 11,46 persen seiring dengan meningkatnya permintaan luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah bertekad untuk terus melindungi industri dalam negeri dari serbuan produk impor,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa (20/4). ).

    Ia mengatakan, diperlukan instrumen yang mampu memacu daya saing produk nasional dengan tetap menjaga kesehatan dan keselamatan konsumen serta lingkungan, termasuk di sektor industri logam. “Dengan tetap mengedepankan prinsip keadilan dalam perdagangan internasional, penerapan SNI wajib dapat bertujuan untuk meningkatkan akses pasar luar negeri dan menurunkan tarif impor,” kata Agus.

    Ia melanjutkan, penerapan instrumen berupa pemberlakuan wajib SNI, fokus utamanya pada beberapa produk terkait Keamanan, Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan (K3L). “Untuk mendorong industri logam nasional yang berdaya saing tinggi, perlu diciptakan iklim usaha yang kondusif dan berdaya saing guna mendorong pemanfaatan dan kemampuan inovatif di sektor tersebut,” ujarnya.

    Kepala Badan Kebijakan Standardisasi dan Jasa Industri (BSKJI) Doddy Rahadi mengatakan nilai impor HS untuk produk wajib SNI pada 2020 sebesar Rp 102 triliun. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2019 yang sebesar Rp. 133 triliun.

    “Meski nilai impornya turun, saat ini ada 147 kode HS yang tersebar di 28 SNI wajib sektor logam,” ujarnya. Sehingga perlu perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan terkait dalam mendukung pertumbuhan industri baja nasional.

    “Sehingga tidak ada lagi gap membanjirnya produk impor yang tidak berkualitas ke pasar dalam negeri,” kata Doddy. Lebih lanjut, penerapan SNI wajib pada produk logam juga bertujuan untuk merealisasikan target substitusi impor sebesar 35 persen pada tahun 2022.

    “Pembatasan impor terutama untuk produk yang bisa diproduksi oleh industri dalam negeri perlu diperkuat,” ujarnya. Kementerian Perindustrian menargetkan sektor industri logam dasar tumbuh 3,54 persen pada 2021.

    Hal tersebut menunjukkan bahwa industri baja merupakan sektor dengan ketahanan tinggi yang mampu bertahan dari pandemi Covid-19. Di saat yang sama, ia siap kembali meningkatkan kemampuan dan performanya di tahun 2021.

    Kepala Pusat Riset dan Standardisasi Industri (Baristand) Surabaya, Aan Eddy Antana, di sela-sela kunjungan ke PT Sunrise Steel beberapa waktu lalu mengatakan bahwa ketersediaan infrastruktur dan sumber daya manusia di Baristand Industri Surabaya akan dapat mendukung pemerintah. dalam mewujudkan target substitusi impor. Sekaligus meningkatkan daya saing industri logam dalam negeri.

    Hingga saat ini, Baristand Industri Surabaya terus berupaya untuk meningkatkan cakupan pengujian produk logam yang ada dan sertifikasi produk logam untuk mendukung substitusi produk impor. “LSPro kami telah mampu mensertifikasi 33 jenis SNI untuk produk logam dan 17 produk logam dasar dan produk logam fabrikasi untuk Lembaga Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (LSSM),” ujarnya.

    Sedangkan laboratorium penguji Baristand Industri Surabaya mampu menguji 50 produk logam baik pengujian sesuai SNI maupun permintaan pelanggan. “Rencananya, dalam waktu dekat ini akan kami tingkatkan cakupan sertifikasi dan pengujian produk logam agar lebih mudah bagi industri dalam negeri untuk mensertifikasi produknya, mengingat permintaan yang terus meningkat dari tahun ke tahun,” kata Aan.




    Source