Kegagalan AS di Afghanistan dan Ancaman China

AS sekarang harus fokus pada China, yang merupakan ancaman nyata.

Oleh: Teguh Firmansyah, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, AS memutuskan untuk pergi dan secara bertahap menarik semua pasukannya yang tersisa dari Afghanistan mulai awal Mei. Batas akhir penarikan pasukan terakhir adalah 11 September. Tanggal tersebut persis dengan waktu ketika World Trade Center di New York dihancurkan oleh gerakan yang disebut Al-Qaeda.

Keputusan Presiden AS Joe Biden sejalan dengan pendahulunya Donald Trump yang juga ingin segera menarik pasukannya dari Afghanistan. Tetapi Trump tidak berhasil sampai masa jabatannya berakhir.

Ada dua hal yang bisa dilihat dari penarikan pasukan AS tersebut. Pertama, pandangan umum bahwa AS telah gagal atau bisa dibilang kalah dalam pertempuran panjang di negaranya.

AS memang berhasil menggulingkan Taliban yang diduga melindungi Usama bin Laden pada 2001. Dalam seminggu pemerintah Taliban jatuh. Tetapi pasukan AS dan asing tidak dapat menyingkirkan seluruh pasukan Taliban.

Gerakan gerilyawan ini melancarkan berbagai serangan yang memicu ketidakstabilan di Afghanistan. Serangan dilancarkan terhadap pos pasukan asing, dan pos-pos yang dianggap pro-Barat.

Strategi Taliban untuk mengepung kota adalah desa. Meski banyak kota besar yang dikuasai oleh pemerintahan Afghanistan saat ini yang didukung oleh Barat, namun di daerah pedesaan Taliban masih kuat.

Hal inilah yang memicu kekhawatiran jika pasukan asing hengkang, apakah pemerintah saat ini mampu menahan gempuran Taliban? Beberapa warga di kota-kota besar juga khawatir Afghanistan akan kembali pada pemahaman Islam yang sebelumnya kaku.

Upaya AS untuk mendamaikan faksi Taliban dan pemerintah saat ini bisa dibilang gagal. Upaya tersebut sebenarnya terlihat seolah-olah AS telah ‘menelan ludahnya sendiri’. Mengapa demikian? karena AS berhasil menjatuhkan Taliban, dan kini Paman Sam juga ingin mengajukan perdamaian.

Taliban juga tampaknya mulai menghirup udara segar. Mereka enggan berdialog hingga pasukan asing meninggalkan Afghanistan. Akhirnya, mereka mengaku tidak akan menghadiri pertemuan di Turki yang akan digelar pada 24 April itu.

Kemudian hal kedua yang bisa dilihat dari penarikan pasukan AS, adalah strategi baru Paman Sam. AS mungkin mulai melihat bahwa tidak ada gunanya terlibat dalam pertempuran panjang yang dihadapi negara itu. Bagi AS, misi untuk menghancurkan Al-Qaeda dan kepemimpinannya Usama bin Laden sudah berakhir. Usama bin Laden tewas dalam sebuah operasi di Pakistan pada 2011.

Dari segi biaya, pertarungan ini juga memakan biaya yang tidak sedikit. Penelitian dari Brown University mengungkapkan bahwa perang selama dua dekade menelan biaya US $ 2,26 triliun. Jumlah ini akan terus meningkat jika AS tidak segera pergi.

Kini AS juga melihat musuh baru yang langsung mengancam superioritasnya di dunia. Musuhnya adalah China. Presiden Joe Biden juga setuju bahwa China telah menjadi ancaman nyata. Kemampuan China dalam hal ekonomi dan pengaruh perlahan mulai bersaing dengan Amerika Serikat.

China telah berulang kali tidak gentar meskipun mendapat sanksi dari AS dan sekutunya. Bukannya mengundurkan diri, mereka membalas sanksi yang diberikan. Cina juga memiliki pengaruh yang cukup kuat di Asia dan Afrika.

Dengan kebijakan Belt and Road Initiative, China telah menggelontorkan banyak uang untuk membangun infrastruktur ke hampir 70 negara. Bantuan ini tidak gratis, ada harga yang harus dibayar. Beberapa analis bahkan menganggap ini sebagai ‘jebakan utang’ bagi sejumlah negara miskin. Dengan demikian, China semakin mencuatkan kukunya di negara tersebut.

Dari sisi geopolitik kawasan, Tiongkok kini berada dalam tahap ekspansif. Mereka berulang kali mengirim kapal mereka ke daerah sengketa di Laut Cina Selatan. Akhirnya Filipina yang merupakan sekutu AS dibuat marah oleh kapal-kapal China yang masuk ke wilayahnya.

China juga semakin mencengkeram Hong Kong. Aktivis dan politisi yang cenderung pro-Barat telah dikesampingkan. Aktivis dipenjara di bawah Undang-Undang Keamanan Nasional yang baru. China juga telah menerapkan Undang-Undang Pemilu yang baru sehingga hanya para pemimpin pro-Beijing yang dapat dipilih untuk memimpin Hong Kong.

Mungkin juga bagi China untuk menginvasi Taiwan, yang merupakan sekutu AS dalam waktu dekat. Indikasi ini terlihat dari semakin gencarnya militer China melakukan latihan atau manuver di dekat perairan dan wilayah udara Taiwan.

Bagi China, Taiwan adalah bagian dari wilayahnya. Mereka mengklaim memiliki hak atas Taiwan.

Amerika Serikat telah membantu Taiwan dengan pasokan senjata. Tetapi apakah AS akan mengirim pasukan saat Taiwan diserang belum tentu diberikan biaya-sangat besar. Yang pasti, AS kini melihat Beijing sebagai ancaman besar yang tidak bisa diabaikan. Meninggalkan Afghanistan, dan berfokus pada China adalah pilihan untuk mempertahankan pengaruh AS di kancah global.




Source