Kejaksaan Tangkap Kasus Buronan Kepemilikan Hasil Hutan Ilegal

Kejaksaan telah menangkap buronan kasus kepemilikan hasil hutan ilegal.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Tim Penaburan Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalbar, Kamis (22/4), berhasil mengamankan buronan bernama Prasetyo Gow. Ia adalah terpidana kasus pencabutan atau kepemilikan hasil hutan tanpa surat keterangan legalitas hasil hutan (SKSHH).

Menurut Kapuspenkum Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak, Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 2370 K / PID / 2005 tanggal 28 Juli 2006, terpidana terbukti secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana “Mengangkat atau Memiliki Hasil Hutan Tanpa Sertifikat Legalitas Hasil Hutan (SKSHH). Karena itu, terpidana divonis empat tahun penjara dan divonis denda Rp 200 juta disubsidi lima bulan penjara, kata Leonard dalam keterangan tertulis, Jumat (23/4).

Terpidana diamankan di The Royal Spring Hill Residence, Jl. Benyamin Suaeb, Tim Pademangan, Kemayoran di Jakarta Utara. Dimana sebelumnya lolos dan merubah bentuk wajah pada hidung dan rahang dengan cara operasi plastik di Jakarta dan menggunakan nomor telepon luar negeri (Singapura).

Selanjutnya, terpidana dititipkan di Rumah Rutan Negara (Rutan) Salemba, Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan, menunggu Tim Kejaksaan Tinggi Kalbar.

“Melalui program Kejaksaan Menyerah (Tangkap Buronan), kami menghimbau kepada seluruh daftar buronan Jaksa Penuntut Umum (DPO) untuk segera menyerah dan bertanggung jawab atas perbuatannya karena tidak ada tempat aman bagi para buronan,” kata Leonard.

Adapun kronologisnya, kata Leonard, terpidana yang masih menjadi tergugat pada 2004 itu adalah pemilik Tempat Penumpukan Kayu (TPK) Lalang Lestari yang berlokasi di Sungai Awan, Desa Sukaharja, Kabupaten Ketapang. Ia didekati oleh masyarakat untuk menjual kayu olahan milik masyarakat yang tidak dilengkapi dengan Surat Keterangan Hukum Hasil Hutan (SKSHH), kemudian kayu olahan tersebut diterima dan dibeli oleh terdakwa dengan membuat kuitansi pembelian oleh kasir.

Kemudian setelah kayu olahan terkumpul, Tergugat menghubungi Shipping PT. Cross Continent untuk menyewa Kapal KM. Layanan yang Berarti. Selanjutnya kayu olahan tersebut diangkut ke Gresik, Jawa Timur.

Saat kayu olahan sedang dimuat ke KM. Layanan Berarti dan KM. Javi berasal dari Polda Kalbar, termasuk Kompol Helmi Kwarta, SIK dkk. Kemudian aparat Polda Kalbar meminta dokumen SKSHH untuk kayu olahan tersebut.

Karena kayu tersebut tidak memiliki dokumen SKSHH, maka pihak Polda Kalbar mengamankan kayu olahan tersebut beserta sarana pengangkutannya (KM. Meaningful Services dan KM. Javi). Sedangkan 46.253 (empat puluh enam ribu dua ratus lima puluh tiga) kayu olahan (empat puluh enam ribu dua ratus lima puluh tiga) terdiri dari berbagai jenis kayu olahan dengan volume sekitar 786,9716 m3 (tujuh ratus delapan puluh enam koma sembilan). tujuh satu enam meter kubik).




Source